Rabu, 13 Oktober 2010

Batas

Suatu malam di sudut kamar, ku tak bisa pejamkan mata ini. Semua begitu gelisahkan hatiku. Ku ingat tadi sore, saat mentari terbenam diiringi gerimis hujan dan angin yang diam2 telusupi kulitku yang menggigil. Sebuah perbincangan dengan Mas Ipar mengenai kecelakaan kereta api di Petarukan Pemalang. Sekali kulihat ada rasa syukur ternyata dia masih diberi kesempatan untuk menikmati anugerahNya dan semua kebaikan2Nya. Sungguh mukjijat,kata batinku, sebuah pengalaman yang mengantarkan tentang arti hidup dan mati. Dan dia mengatakan, ternyata batas antara hidup dan mati itu tipis sekali, atau bisa dikatakan bagai dua sisi yang menempel seperti uang logam, pasti ada dan pasti kita akan mengalami kedua sisi itu.
Aku peluk guling ini, sambil merenung tentang kematian. Suatu waktu pasti kita akan masuk ke pintu itu. Pintu yang mungkin gelap atau terang, aku tidak tahu. Aku hembuskan nafas panjang, aku nikmati udara yang masuk dan keluar dari hidungku, ku gerakkan semua anggota tubuhku, semua baik2 saja. Ah, Tuhan, terima kasih atas semuanya.
Tak terasa, mata ini meneteskan air mata penuh syukur,ternyata aku dicintaiNya sehingga aku boleh menikmati semua anugerahNya, semua ciptaanNya.
Tuhan, maafkan aku selama ini penuh dosa dan kesalahan. Tuhan, aku ingin menangis di pangkuanMu nantinya.
Ku bangun, kubuka gorden jendelaku, kubuka jendela, dan angin penuh lembut menerpa wajahku dan lembut memelukku. Ku pejamkan mata, kubuat tanda kemenangan Anak Gembala, dan aku hanyut dalam doa. Aku dengar seakan ada Engkau disampingku berbicara dengan bahasa yang belum kumengerti, yang kupercaya suatu saat nanti aku mengerti bahasaMu.