Rabu, 14 Agustus 2013
MAKNA KEPEDIHAN
Bagi yang masih belajar, makna kepedihan begitu menyiksa dan membebani langkah hidup ini. Suatu hari, peri kecil yang pernah menemaniku menemui lagi. Bekas air mata yang sembab menjadikan luntur keelokannya. Sayapnya pun patah terkulai. Dengan tertunduk dia bertanya,"Apakah kehidupan ini tidak adil?" Aku pun diam. Sebagai manusia kadang kepedihan membuat kita tidak bisa berpikir dan merasakan kalau Tuhan yang Maha Pengasih menjadikan kita lebih kuat dan tegar. Sebelum aku menjawab, dia berkata,"Bukankah Tuhan menjadikan kita harus hidup bahagia?".
Kucoba menatap matanya, dia pun tertunduk,aku ingat kalau aku menatapnya,aku seperti menelanjanginya, padahal tidak, mataku biasa saja, tapi buat dia, mataku seperti pedang yang siap terhunus. Aku pun menjawab," Kepedihan harus dirasakan agar kita tahu begitu manisnya kepedihan." Peri kecil seakan protes padaku, tapi sebelum dia berkata, kulanjutkan lagi,"Jika kita sudah mengetahui bahwa kepedihan adalah inti dari manisnya hidup, kita bisa melampui makna dualitas hidup. Sama seperti gelap dan terang, panas dan dingin, semuanya harus dilalui, karena kalau tidak, hidup seperti tidak lengkap. Dan kalau tidak lengkap, kita bukanlah murid yang lulus dalam hidup ini."
Peri kecil seakan mencerna perkataanku. Dia pun menjawab,"Jadi sudah suratan takdir bahwa seua yang kita alami adalah bagian dari perencanaan agar kita menjadi pribadi roh yang lebih dewasa?"
Aku pun tersenyum dan menjawab," Ya, begitulah hidup, di balik suatu peristiwa, ada campur tangan Maha Kuasa, hidup harus dijalani sehingga kepedihan jangan menjadikan kita pupus, justru dengan kepedihan, kita dapat menemukan manisnya kehidupan."
Ku lihat, peri kecil pergi menuju cahaya, meniinggalkan aku seorang diri di taman Firdaus ini.
Langganan:
Postingan (Atom)