Selasa, 18 September 2018
Iman, Pengharapan, dan Kasih
Berbicara ketiga kata itu, sangat dalam. Menjadi pusaran dan menggigilkan hati setiap manusia. Menantang untuk mempertanyakan esensi kehidupan sosial dan yang transenden. Hubungan yang membedakan eksistensi manusia dengan setiap ciptaanNya di planet ini.
Iman padaNya adalah kehausan dan buah refleksi perenungan manusia. Manusia menyadari, ada kuasa yang transenden terhadap semua gejala alam. Nama yang mengatasi semua nama. Nama menjadi awal dan tujuan dari perjalanan hidup manusia itu sendiri dan semua ciptaanNya. Yahweh, Allah, Abba, Budha, Yang Widi, dan semua nama yang muncul dari suara hati manusia.
Dengan adanya iman, muncul pengharapan. Pengharapan yang dijanjikan oleh para Nabi maupun wahyu yang tereinkarnasi. Hidup dimaknai dengan harapan, harapan tentang suatu oase yang terdalam di setiap lubuk hati manusia. Oase yang kadang menjadi lupa, bahwa hidup itu dimaknai dari detik ke detik sampai nama manusia terlupakan dengan beriringnya waktu.
Dari iman dan harapan, muncul gerakan hati yang membebaskan kesejatian pribadi untuk lebih mengedepankan buah yang berlimpah, buah yang menghasilkan rasa untuk bersama-sama, bahwa pengembaraan hidup ini adalah hal yang harus disyukuri dengan lainnya. Berbagi, berempati, dan saling melayani. Dan semua bersumber pada kasih. Kasih yang mebebaskan. Kasih yang menjadi titik penting di setiap hubungan ciptaanNya.
Akhirnya, yang pertama adalah kasih, iman dan harapan menjadi kaya akan pemaknaannya.
(Palmerah, September 2018)
Langganan:
Postingan (Atom)