Rabu, 17 Oktober 2012

Pengembara

Kemarin malam,pas pulang kantor,pengen banget makan pecel. Ingat saat istri buat pecel, sayuran yang lengkap. EEmmmmmm... bayangin aja pengin cepat pulang ke Gunungkidul. Ku langkahkan kakiku menuju pasar dekat kantor, pasar Palmerah. Di sini seingatku ada bapak dan istri yang sudah berumur jualan pecel. Ah, Tuhan ternyata Engkau mendengarkan doaku. Kutemukan engkau wahai pecel ha ha ha. Ku santap pecel yang sudah terhidang dengan lahap, emmm .. enakkkk. Setelah selesai...haduhh.. pedes banget.. tapi keinginan ternyata mengalahkan kenyataan. Hmmm, dua keadaan yang paradok, ahhh udah lah.. aku ingin menikmati pecel aja..tidak akan berpikir njlimet lagi. Tapi ya dasar pemikir,aku pun berpikir ranah tadi, keinginan dan kenyataan. Baru asyik berpikir, bapak beruban putih di sampingku menyapa dan mengagetkan aku. 'Kenapa Dik?". Akupun tersenyum dengan Bapak tadi. Lalu kami saling mengobrol.. Beliau seorang DPR, putarnya sekolah di UGM dan ITB. Sayapun mulai meminta saran padanya. Beliau berkata,"Anak itu titipan Tuhan, hal yang harus dilakukan cukup mendengarkan dan membesarkannya, jangan membentuk sesuai dengan keinginan kita, tetapi doronglah apa yang menjadi kelebihan dan potensinya." ... Pikiranku jauh melayang membayangkan Pi dan Ta, kedua putriku yang sangat kusayangi. Ku berjanji, kan beri yang terbaik untukmu ndhuk. Waktu makin berjalan, dan Bapak itu juga tahu kalau aku 'nglaju' Jogja-Jakarta. Dia bilang,"Hidup adalah pilihan Dik, tetaplah hanya bersandar pada kehendakNya, dan selalu menjaga hati,pikiran, dan tindakan kita agar selalu berada di jalanNya." Saya pun jawab," Amin Pak." Waktu pun tdk bersahabat, dan kamipun harus pulang. Aku bayari bapak tadi, dan beliau tdk mengerti. Sayapun pamitan, dan saat Bapak tadi tahu kalau sudah kubayar, dia kaget dan berkata," Jangan Dik, engkau seorang Pengembara, tdk usah repot-repot, Engkau seorang Pengelana, Perantau... jangan Dik." Akupun menjawab," Apalah arti seharga pecel daripada saran dan nasehat yang Bapak sharingkan tadi?, besok kita masih bisa ketemu Pak, karena saya juga suka pecel," sambil tersenyum ku tinggalkan Bapak itu yang masih penasaran. Di kejauhan kudengar, Bapak itu bilang.. dia seperti musafir.. pengelana kehidupan. Aku pun tersenyum mendengarnya, ya Pak, saya seorang musafir, seorang pengembara di kehidupan ini. Tuhan memberkati langkah kita selalu.