Kawan, jika ada duri dalam hatimu karena kehadiranku, kuingin menjadi bunga mawar walau berduri tetapi menjadikan taman ini lebih indah. Kadang sempat terpikir untuk lukai hatimu lebih agar darahmu semakin menganga hingga duriku makin melebarkan dan bekaskan sakit hati. Ah, tetapi itu semua tidak kulakukan. Tuhan Sang Gembalaku tidak mengajarkan hal itu. Walau kemunafikan seorang manusia kadang membuat jalanku terseok dan berdarah, itu tidak akan membuat diriku hancur, malah semakin tumbuh subur dalam nuansa kehidupan ini.
Kawan, lewat goresan jejak langkah kaki ini, aku mohon, buanglah topeng kemunafikanmu. Hingga suatu saat nanti kulihat wajah aslimu. Ah, aku dengar lagi derap sepatu para munafik di seberang pikiranku. Tahukah mereka bahwa hidup ini hanyalah panggung sandiwara? Ataukah mereka memang 'didapuk' menjadi para munafik. Ha ha .. aku tertawa lepas dalam kesendirian, mungkin benar mungkin salah, tetapi itu semua tak pengaruhi hidupku.
Minggu, 31 Januari 2010
Kamis, 07 Januari 2010
Selamat Jalan Gus
Membaca Kompas tadi malam mengenai tulisan Mas Sujiwo Tejo tentang Sang Legendaris Gus Dur yaitu tentang Sang Ceplas Ceplos. Penulis sangat setuju karena Mas Sujiwo berani untuk berpikir dari sisi lain. Sisi yang orang Jawa kalau bilang adalah hal yang tabu, tapi justru pandangan tersebut diperlukan dalam memaknai jaman yang serba tak pasti ini. Bicara ceplas ceplos Gus Dur adalah berani membuka kemunafikan, kebrobokan mental, dan fanatisme sempit. Saya sangat bersyukur memiliki Bapak sekaliber Gus Dur yang selalu mengayomi dan memberi kesempatan memanusiakan manusia. Semoga penerus-penerus Sang Legenda tetap akan bermunculan di bumi Nusantara ini. Selamat jalan Gus Dur ... semoga pemimpin di negara ini dapat belajar terhadap sikapmu demi tegaknya NKRI yang kokoh di bumi ini.
Langganan:
Postingan (Atom)