Selasa, 27 Oktober 2009

Jadikan Aku Tegak

Sudah benarkah jalan hidupku Tuhan? Setiap langkah yang kulalui selalu diiringi kesedihan dan kehampaan. Ataukah ini hanya rasa dari seorang anak manusia yang mencoba mencari jati dirinya? Tuhan, sudah 32 tahun aku hidup, tapi seakan kebahagiaan menguap begitu saja dan melepas dahaga yang hampir sirna. Kalau kekinian selalu terulang dalam karya dan pengabdian, bukankah akan tetap tergambar dalam jejak jalan hidup ini? Tuhan, yang ingin ku share padau adalah karya dan tugasku. Aku berterima kasih karena aku termasuk ciptaanMu yang punya banyak kelebihan. Dari rentang perjalanan hidupku, banyak prestasi yang kuraih, entah dalam akademik ataupun dalam sosial. Tapi apa yang terjadi di diriku Tuhan, di tempat kerjaku seakan2 lenyap begitu saja. Segala bakat akademikku seakan ditertawakan dan diludahi begitu saja oleh kemunafikan ego sosial. Sekali lagi aku ingin bertanya padaMu, sudah benarkah langkah hidup dan karyaku di sini Tuhan? Ataukah ada jalan lain dimana aku lebih diterima dan diakui dalam penghargaan dan profesionalisme? Jika tidak, mengapa Tuhan? Jika ya, di manakah jalan itu Tuhan?
Saat malam di penghujung pagi, aku pun tertidur. Kaupun dengan tepukan di pundakku seakan berkata," Tetap berjalanlah Nak, jika kamu belum mendapat sesuatu yang kauinginkan, percayalah, Aku akan memberikan padamu dengan percuma, tapi ingatlah, waktuKu pasti tepat, dan waktuKu jelas bukan waktumu, maka tetaplah berjalan dan lakukan semua hanya demi Aku bukan penguasa di dunia ini." Dan mimpi tadi malam menggugahku bahwa perjalanan ini harus tetap bertahan walau kadang kesedihan dan kehampaan yang kankutemui, tapi masih ada sebersit harapan dan doa mama, pi, dan anakku yang baru berusia 1 bulan di kandungan istriku. "Ma, dan anak2ku, pa akan tetap berjalan walau perih nian hati ini terkoyak, tapi doa dan salib Kristus menyertai perjalanan dan pengembaraan ini. Amin"

Selasa, 20 Oktober 2009

Tong Kosong Berbunyi Nyaring

Kalau boleh aku bertanya padamu sobat. Apakah selamanya tong yang kosong berbunyi nyaring? perdengarkan musik yang saling menggema dan tak beraturan, adalah orkestra yang selalu benar? Ah, aku tak tahu, sudah tujuh tahun di belantara Jakarta ini, banyak kujumpai dan kutemukan sebuah musik yang kadang timbul dan lenyap, dan kebanyakan adalah suara tong tadi. Tong yang berbentuk silinder adalah lambang fleksibilitas dari jiwa manusia. manusia yang mencoba bertahan dengan arus informasi yang tak jelas, kemudian dibuat seakan-akan jelas dan transparan. Ah, sebenarnya aku sudah muak dan ingin muntah. Kejujuran dan kebenaran seakan diinjak2 dan diludahi dengan perampasan keadilan. Merobek dan menonjok perut kesadaran. Tapi aku tetap bertahan dari hujan kemunafikan dan kesombongan ini. Walau kadang langkah terseok dan coba berdiri lantang dengan panji leluhur yang kupegang, kupercaya, pada akhirnya nanti panjiku akan berkibar di tempat yang suci dan murni.
Yah, langkah ini terus berpijak di tempat yang sama, berulang dan berputar pada jarak rotasi yang nol. Coba tuk petik setiap daun dan suara yang berwujud pada waktu kekinian. Dan coba perdengarkan irama tong yang kuberi air dari setiap mata air di planet ini. Yang terjadi adalah irama musik dengan oktaf yang teratur, sesuai gubahan jiwa nuraniku. Cobalah sobat, tongmu yang nyaring dan seakan memekakkan telinga seluruh penjuru ruangan ini ( mungkin ) akan terdengar merdu saat air kesadaran dan keheningan tertuang dalam jiwamu. Semoga hari yang akan kulalui lagi kan terpetik bunga yang benar-benar murni dan suci, bukan bau comberan di bawah sinar bulan atau suara tong yang nyaring dan pekakkan telinga TuhanKu .

Rabu, 07 Oktober 2009

Saat Di Gerbong Kereta Tanggal 24 /2/2009

Saat itu kebetulan, penulis duduk dekat seorang Bapak yang berumur 72 th. Bapak itu berasal dari suatu desa yang sangat jauh tertinggal. Tetapi dari pembicaraan, penulis tahu sebenarnya Bapak ini mempunyai ingatan yang kuat dan juga cerdas walau setamat kelas 2 SR waktu itu.
Dari perbincangan itu, sangat banyak yang penulis petik tentang hidup ini dari pengalaman Bapak Tua tadi. Penulis ingin mencoba merangkum dari serakan2 ingatan waktu itu, yaitu :
1. Tentang Politik Bangsa Indonesia
Saat ini, kita akan memasuki jaman edan ( Ronngowarsito) di mana moralitas dipertanyakan karena manusia hanya lebih mementingkan kepentingan sesaat . Pejabat2 pemeintah saat ini hanya seragam saja, tetapi jauh dari lubuk hatinya tidak ada nurani / rasa, apalagi untuk berpihak kepada rakyat. Lalu saat penulis bertanya, kira2 kapan kita akan terlepas dari kondisi ini Pak ? Lalu Bapak itu mengatakan," Lihat sejarah Nak, Berapa tahun kita dijajah ? Saya jawab," 350 tahun". "Ya... begitulah nasib bangsa kita, jika kita hitung 350 th lagi dari th 1945 jadi sekitar th 2295', jawabnya mantap. Penulis jadi termenung, mmungkin sudah menghadap Tuhan dan Firdaus He he ... Semoga deh ".
2. Tentang Pekerjaan.
Lakukan pekerjaan apapun yang telah dibebankan padamu dengan segala keikhlasan dan tanggung jawab dan pada akhirnya kamu akan menuai manfaatnya. Kalau diberi pacul ya macul, kalau diberi pensil ya menulis, kalau diberi jabatan ya menjabat dengan penuh kebaikan , dstnya ... monggo diteruskan sendiri.
3. Tentang Mencari Ilmu Pengetahuan
Bapak ini bercerita, sampai saat inipun beliau masih suka baca, dia berprinsip bahwa sebelum masuk ke liang lahat, apapun harus kita pelajari untuk 'sangu' dalam hidup ini. Penulis jadi malu, kadang2 mau baca agak males ... tapi penulis akan janji dalam hatio kalau bisa akan baca semua pengetahuan mungkin juga dari buku, atau mungkin fenomena alam ... semoga
4. Tentang Hidup
Jika manusia selalu mengedepankan kebeningan hati dan jernihnya pikiran, semua kesulitan hidupo ini akan mudah dijalani, Selalu rendah hati dan selalu belajar pada orang yang bijaksana. "Bapak hanyalah seoarang petani biasa, ilmu ini seperti padi, semakin tua semakin merunduk, jadi belajarlah selalu rendah hati dan junjunglah kejujuran", kata Bapak itu menambahkan.

Penulis jadi semakin kecil akan kebijaksanaan Bapak itu, semoga pilihan bijak selalu ingin penulis terapkan di dalam mengarungi pengembaraan hidup ini agar lebih bermakna dan berarti Amin

Tabungan Energi

Apakah yang tersisa dari pembakaran mayat di Bali atau pembakaran mayat menurut agama tertentu ? Yang tersisa adalah reliuki / tulang ekor. Reliuki ini sebagai indikator apakah seorang yang meninggal itu selam hidupnya mayoritas berbuat baik atau jahat. Jika warnanya jernih dan bening, maka orang tersebut hidup dalam kebajikan, demikian juga sebaliknya.
Menurut seorang bijak, manusia jika berbuat baik maka akan tertabung energi positifnya di tulang ekor ini, dan ini dapat dicairkan dengan segala pemohonan kepada Tuhan. Selayaknya tabungan, tabungan energi positif / negatif akan mencair sesuai dengan Hukum Lavoiser ( Hukum Kekekalan Energi ). Jadi, kita dapat bercermin, apakah hidup kita ini mujur terus / sial terus ? ini dapat dijawab ... apakah yang kita tabung dalam hidup ini? Tabungan Positif atau Tabungan Negatif?
Sebagai contoh pengalaman : Ada seorang pejabat di negeri ini yang korupsi 550 juta, pada mulanya dia sangat tidak setuju dengan paham Hukum Kekekalan energi ini karena menurut dia, hidupnya tenang2 aja dan serba enak. Tak disangka, setelah beberapa tahun, anaknya yang kuliah di Amerika menjadi pecandu obat2 terlarang, maka dengan sedih, anak itu di bawa ke indonesia dan dimasukkan di pusat rehabilitasi. Setelah beberapa bulan, anak itu sembuh dan berapakah untuk menyembuhkan anaknya? Setelah dia menjumlah semua nilai uang yang harus dikeluarkan ternyata nilainya adalah 550 juta. Dia pun menangis dan menyadari bahwa hidup ini tergantung dari apa yang kita lakukan dan apa yang kita tabungkan. So dari kisah nyata ini, semoga kita bisa bercermin dan sekaligus instropeksi, apakah jalan hidup ini sudah benar? Dan jika kita ke arah yang salah, kita harus diam dan berani untuk kembali ke jalanNYa. Semoga

Karate

Penulis tertarik olah raga ini pada saat penulis sekolah di bangku SMP, dan sempat berhenti di sabuk biru. Kemudian karena kesibukan sekolah dan malas olah raga menjadikan penulis sudah tak ikut olah raga ini. Tahun berganti tahun dan saat penulis menginjakkan kaki di jakarta ini tuk bekerja di Kompas Gramedia, saat penulis pulang, terpampang gambar dua karateka sedang berduel . Ini membuat pemicu penulis untuk ikut olah raga ini lagi. Sebenarnya ada pertanyaan yang mendasar yang ingin penulis share yaitu: Apakah manfaat olah raga ini? kenapa tidak memilih olah raga yang lain ? Penulis pun sempat merenung tuk menjawab ini. Karate adalah olah raga keras yang membuat orangtak bernyali menjadi gentar dan dengan teratur pasti akan mundur jika disuruh bertarung. Olah raga ini juga membuat diri terluka / orang lain juga terluka . Jika dikaji, iya olah raga ini adalah seni bertarung dari jepang dan membutuhkan kedisiplinan yang tinggi so sangat beresiko. Penulis ingin menjawab, sebenarnya olah raga ini menempa seseorang tuk berani mengkadapi kesulitan2 hidup dan memberi keberanian tuk selalu survive di dunia ini. Dari sumpah karate jelas disana ada 5 yaitu : Sanggup memelihara kepribadian, Sanggup patuh pada kejujuran, Sanggup mempertinggi perstasi, Sanggup menjaga sopan santun, dan Sanggup menguasai diri. Jadi karateka sejati akan memegang sumpah itu, dan berusaha menjaga harmoni kehidupan agar menjadi lebih baik. Jika ada karateka yang mudah marah, tidak sopan, selalu ingin menang sendiri, atau selalu membuat keonaran dengan mengganggu ketertiban .... itu bukanlah seorang kareta tetapi hanyalah seorang yang hanya belajar bertarung tidak
menjadikan jurus2nya tuk kepentingan umum dan pengendalian diri.
Master karate dari Jepang memberi filosofis dalam karate yaitu "Jika jalan dah buntu dan tidak ada lagi jalan untuk kedamaian dan kemerdekaan, karate sebagai jalan pilihan terakhir"

'KARATE ADALAH LAMBANG KEDISIPLINAN DAN PENGENDALIAN DIRI AGAR MENJADI PRIBADI YANG TEGUH, TAHAN BANTING, DAN KUAT DALAM GODAAN DAN TANTANGAN "

Sangkan Paraning Dumadi

Pertanyaan-pertanyaan iseng dan nakal kadang2 membuatku gelisah dan kadang2 terbawa mimpi saat tidur. Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup? Dan kemanakah kita setelah tidak di dunia ini? Sebagai makhluk rohani, saya pasti akan menjawab bahwa kelahiran, kehidupan, kematian, dan kebangkitan kita merupakan kasih karunia Tuhan Allah Bapa. Hal itu sebagai dogma yang harus kupegang dan tetap terus kuhayati. Tetapi, mungkin karena banyak informasi yang aku ketahui baik lewat media cetak atau elektronik, kita sebenarnya adalah makhluk pribadi yang akan terus untuk mempelajari beberapa kehidupan dan pada akhirnya akan bersatu dengan Sang Pencipta Yang Maha Tunggal. Dan kita hanyalah neuron2 yang akan bergabung menjadi sistem syaraf jagat raya kesadaran
kadang2 aku ingin menerjemahkan fenomena ini. Adakah UFO?Siapakah mereka? Siapakah orang Maya? Perkembangan terakhir ilmu pengetahuan? Akibat terjadinya perpaduan logika dan iman?Berita adanya kehidupan di jagat raya lain? Reinkarnasi? Piramida kehidupan? Kehidupan paralel? tentang makhluk tak kasat mata?Nasib yang berbeda?Semoga rasa ingin tahuku tentang fenomena ini akhirnya terjawab.
Namun, pada suatu malam, aku bermimpi, aku melihat Santo Agustinus diperdaya oleh malaikat kecil saat mencoba menjawab misteri Tuhan. Aku pun terbangun... dan saat kulihat diriku ... ternyata aku hanyalah makhluk kecil dan hanya bergantung pada kasih karuniaNya semata

Mepes Hawa Nepsu

Manungsa tinitah karo Gusti Kang Akarya Gesang anduweni kaluwihan katimbang para makhluk liyane. Yaiku diparingi kabebasan. Nanging kabebasan iki kudu dipertanggungjawabke samangsa manungsa mengko ditimbali Gusti ing alam sawise wis ngrucat roh iki saka badan kasar kita.
Kepiye anggone tanggung jawab? Tanggung jawabe yaiku kudu bisa anggunake kabeh daya linuwih iki kanggo njembarake kraton Dalem ing donya. Daya linuwih iki saged marake manungsa mongkog merga daya iki kang anyiptake sing maune ora ono dadi ono lan agawe harmoni ing urip iki.
Nah,kepiye bisane nanggung jawabke kabeh iki yo ora ono dalan kejaba nglakoni mepes hawa nepsu. Kabeh awake dhewe wis padha ngerti ungkapan iki. Mepes hawa nepsu kuwi manungsa kudu bisa ngendalekake hawa manungsa sing cacahe ana 9 bolongan yaiku : mripat(2), irung(2), kuping(2), lambe, bolongan pipis, lan bebuwang. Menawa manungsa bisa ngendalekake 9 bolongan iki, manungsa kuwi iso necep madune gesang iki lan bisa mlebu ing saknjerone Dalem Gusti. Muga2 awake dhewe tansah eling, urip mung mampir ngombe lan mergo sih rahmate Gusti Kang Murbeng Dumadi.

Ibu Kehidupan

Ah, aku teringat ibuku. Ibuku yang sangat mencintai dan menyayangiku,demikian juga aku juga sangat menyayangi beliau. Saat malam menggelayut manja di pelupuk mimpi, teringat saat aku masih kecil, disayang, digendong, dan selalu lindungan ibu kurasakan. Malaikat kah kau ibu? Suaramu yang merdu meninabobokkan tubuh kecilku. Berusaha tuk genggam kesedihanku saat dunia ini mulai kukenal.
Saat ini, si kecilku juga baru menyusu istriku, istriku juga seperti ibuku, sangat menyayangi buah cinta kami. Kadang aku sangat terharu, begitu luas dan dalamnya kasih mereka dan kalahkan segala logika tentang kasih itu. Istriku, ibuku, nenekku, dan juga seluruh perempuan di dunia ini adalah ibu kehidupan yang akan selalu berjuang sampai peluh keringat dan air mata dikorbankan demi kehidupan yang terus berjalan.
Doaku bagi mereka semoga senantiasa diberi kekuatan dan berkah dari Tuhan. Walau sebagian ada yang tak menyadari sebagai ibu kehidupan dan seakan menertawakan kesucian dan takdirnya, semoga jalannya selalu diberkati dan diarahkan ke jalanNya. Amin

Masalah "Beban Hidup"

Semua kehidupan di dunia ini mempunyai banyak masalah. masalah yang selalu menghantui pikiran yang akan berimbas pada perkataan dan pebuatan. Yah, semakin lari masalah akan selalu mengikuti. Lalu timbul pertanyaan, adakah oase tuk mencuci segala kepenatan hidup ini agar lebih jernih dalam melangkah? Kadang orang akan lari ke puncak gunung, menyelam samudra, atau akan mencari pemecahan di luar jagad makro atau ada yang lari ke jagad yang kasat mata. Tapi masalah akan selalu menempel di setiap jalan yang akan mereka lalui.
Memang semua masalah harus diselesaikan dan ini memerlukan kedewasaan spiritual yang akan memberi setiap tetes embun kebahagiaan. Kita sebagai manusia jangan terombang-ambingkan masalah karena setiap masalah pasti ada pemecahannya... itu pasti. Dan jika masalah itu terpecahkan percayalah ada air sewindu yang akan merembes di jiwa dan roh kita. Seorang Guru kehidupan pernah bersabda," Tuhan tidak akan pernah membebani permasalahan hidup di luar kemampuan kita". So, kita sebagai manusia yang selalu mengembara dan berkelanana di jalan Tuhan, percayalah bahwa segalanya akan baik-baik saja jika kita selalu menghadirkan Tuhan di setiap permasalahan yang kita hadapi. Amin

Maaf

"Engkau salah!" kata seorang anak manusia kepadaku. Kemudian saat aku ke seorang bijak, apa yang telah kulakukan, beliau berkata," Engkau tidak salah, dan juga tidak benar." Dua jawaban tadi telah membuatku berpikir dan merenung. Apakah kesalahan itu? Apakah kebenaran itu? Salah jika segala apa yang terjadi di bawah langit ini tidak sesuai dengan harmoni kehidupan, karena tidak sesuai maka membuat harmoni ini terganggu dan tentu saja akan mengganggu hidup itu sendiri, dan benar adalah sebaliknya. Lalu dari jawaban kedua tadi membuat permenungan lebih dalam lagi. Tidak salah dan Tidak benar adalah cara pandang yang holistik, dan kadang2 memmbuat orang lain menganggap bahwa perkataan ini tidak punya pendirian. Perbuatan itu didasarkan pada apa? Atau apa yang mendasari mengapa,bagaimana perbuatan itu dilakukan? Apakah menuntut hakiki manusia? Ataukah menuntut adanya keegoan manusia? Apakah hanya terdorong oleh rasa dasar manusia? Ekonomi mungkin? Pemenuhan biologis mungkin? Saat mencoba mencari gambaran tentang hal tersebut, Seorang bijak yang merupakan Anak Manusia menandaskan bahwa dosa ( salah yang terakumulasi ) telah ditebus oleh sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Dosa telah kalah dan keselamatan telah datang. Lalu dari jawaban kedua tadi terdapat link yang sangat berhubungan, yaitu bahwa Tidak benar dan tidak salah adalah manifestasi bahwa rela memaafkan akan menebus segala keegoan manusia. Karena maaf, manusia semakin mengerti dan menyadari bahwa hidup lebih berarti. Maaf menjadikan manusia berempati pada manusia lain agar membuat hidupnya dapat lebih berarti karena diberi kesempatan tuk memperbaiki hidup agar kehidupannya lebih membuat harmonisasi kehidupan. Memang sangat berat tuk memberi maaf apalagi orang tersebut sangat bersalah kepada kita. Penulis jadi ingat saat seorang gadis yang sekarang menjadi istri sekaligus ibu anak penulis memberi buku yang berjudul Rela Memaafkan. Semoga pegangan itu menjadikan dasar penulis dan keluarga dalam mengarungi hidup yang tidak pasti ini selkaligus menjadikan obat jiwa tuk menjadi manusia yang seluas samudra.

Saat Tuhan mengerlingkan mataNya

Saat aku lahir, dengan santun, malaikatMu mulai mencandai kehadiranku. Kaupun mengerlingkan mataMu dengan senyum yang sangat indah. Kaupun berkata,"Aku kirimkan kamu ke dunia yang keras ini, tetapi jangan lupakan Aku di saat kamu senang,sedih,atau kesepian menghantui hidupmu. dan jika saatnya tiba, aku ingin melihat pakaian yang kutitipkan padamu tetap putih dan bersih." "Beres Tuhan," kataku saat itu. Ternyata dengan bertambahnya ukuran tubuh fisikku, dan semakin aku mengenal dunia ini... kadang-kadang aku semakin jauh dariMu. Peristiwa demi peristiwa membuatku semakin mengandalkan diriku sendiri yang malah membuat diriku semakin hampa.
Saat membaca buku "When God Winks". Aku tersadar ternyata Tuhan selalu besertaku walau aku tak pernah menyadarinya. Saat ada keinginan untuk menguatkan mata hatiku ... semakin aku melihat dan rasakan .. Ah Kau sedang bercanda denganku Tuhan ...
Tuhan ...saat teringat baju yang telah Kau titipkan kepadaku, aku kaget ... ternyata baju ini kumal dan kelihatan sobek sana sini ... Oh .... aku ternyata tersesat dan kadang jauh dari jalanMu.
Sejak aku tahu diriku ... aku melihat cahaya yang sangat silau dan mata hatiku yang tahu ... ternyata Kau datang. Tuhan ... di waktu yang masih tersisa ini ... aku ingin tahu tandaMu yaitu saat Kau mengerlingkan mataMu di setiap peristiwa hidup ini agar aku tahu setitik saja bagian dari rencana indahMu.

Energi Dunia dan Energi Surga

Semua yang ada di dunia ini pasti bergerak dan berputar. Dapat dilihat dari gejala yang maha besar ( jagat raya ) dan maha kecil ( jagat atomik ). Bumi berotasi pada porosnya yang bersudu 23,5', bumi berotasi pada matahari, matahari berotasi pada galaxy ... dst. Dari sudut mikro, atom mengelilingi intinya, inti mengelilingi molekul, molekul mengelilingi zat, zat mengelilingi materi, materi mengelilingi benda, benda berada di bumi, dan bumi ,.......dst.
Sebnarnya apa yang dapat kita petik dari gejala ini? Gerak adalah suatu energi, energi itulah yang akan membuat setiap attodetik untuk selalu berubah dan merubah energi itu. Kalau dilihat dari perkembangan manusia, manusia dari pertemuan sel sperma dan sel telur ( ada gerak sehingga merupakan inti energi kehidupan ), kemudian Tuhan memberi energi ilahi dalam bentuk roh, kemudian setelah sembilan tahun, manusia lahir dalam bentuk bayi. Dengan berjalannya waktu, energi itu akan berevolusi dan bergerak secara linear atau eksponensial dan mewujud menjadi manusia yang dewasa dan pada akhirnya akan mati. Lalu di manakah enegi setelah itu ? Kita sebenarnya adalah pertemuan dua energi yaitu energi dunia ( sel sperma dan sel telur ) dan energi Ilahi. Kita diberi kebebasan untuk mengendalikan energi ini, jika kita dapat memenangi kehidupan ini yaitu menjadikan energi Ilahi tidak terkontaminasi, maka luluslah kita, dan kita ( sebentuk energi ) akan kembali di rumah energi yang sangat indah.. yaitu surga. Jadi, jagalah energi daya Ilahimu di setiap waktu dengan berbicara yang benar, berpikir yang benar, berbuat yang benar, dan selalu ingat akan Tuhan di setiap waktu karena pada prinsipnya kita adalah bagian dari Dia.

Belajar Dari Yohanes

Siapakah dia ? Wajahnya yang sangat keras menunjukkan memiliki karakter yang kuat dan tegas. Wajah yang berewok menandakan dia tidak peduli terhadap penampilan dari luar, tetapi matanya yang tajam selalu ungkap kebusukan dan kemunafikan manusia. Ulama, bangsawan, dan tentara pun tak luput dari kritikan yang pedas. Mereka adalah lambang dari kemapanan suatu golongan di masyarakat.
Yohanes yang berpakaian dari kulit unta dan makanannya hanya belalang dan madu hutan adalah seorang pengembara dan seorang katalis. Dia lah yang meruntuhkan bukit-bukit yang menjulang tuk mempersiapkan jalan Tuhan yaitu Sang Mesias. Bukit yang membuat mata kita buta terhadap kasih Nya pun berusaha ia gempur dengan palu pertobatan.
Kesaksiannya sangat rendah hati, bahwa dia hanyalah hamba yang mempersiapkan Dia yang akan datang. Bahkan membuka tali kasutnya pun dia tidak pantas.
Yohanes pun kadang di sekitar kita. Dia adalah orang yang selalu berjuang walau tidak kelihatan dari system yang besar entah organisasi, institusi agama, atau Negara tercinta ini. Dia lah seorang yang berani bekerja di balik layar tanpa orang menyadari bahwa eksistensinya sangat penting.
Saat aku melihat peristiwa yang terjadi, kadang Yohanes menepuk pundakku dan dengan senyum yang ramah dia selalu berkata,” Teruslah bekerja kawan, kerjakanlah sesuatu yang terbaik demi kemulian Tuhan.” Dia pun perlahan menjauh dari tatapanku dan dari belakang hanya terlihat bayangannya dan suara keras yang selalu menggema di bukit itu.

Datang dan Pergi

Dua kata itu sering membuat manusia berada dalam perasaan yang sangat paradoksal. Datang membawa harapan baru,lembaran hidup baru dan ejawantah yang semuanya baru. Sedangkan kata pergi ada rasa takut tuk kehilangan, musnah, hampa, dan sepi. Mimpi tadi malam menyadarkanku tentang dua perasaan yang satu memberi harapan dan yang satu memupus harapan. Dalam mimpi tadi malam, aku bertemu dengan seorang Nabi yang entah aku tidak kenal, tetapi dari matanya, aku tahu kebijakannya melampui manusia yang penah aku temui. Dalam perbincangan tersebut, ada satu kata yang aku ingat yaitu, “ Manusia terombang-ambingkan oleh perasaan, sebenarnya manusia adalah titik dari kesetimbangan semesta kesadaran. Dan semua peristiwa dari luar sebenarnya tidak mempengaruhi eksistensi pribadi manusia yang bersih itu.” Setelah berkata begitu beliau tertutup awan dan musnah yang membuatku bangun tengah malam. Dalam kesendirian di ruang kamar yang jauh dari istri dan anak, aku semakin merasakan bahwa aku hanyalah sendiri. Seorang pengelana kehidupan yang selalu bergerak maju dengan titian waktu yang tak terbatas. Seorang yang bertanggung jawab terhadap kehidupan dan hidup itu sendiri.
Datang dan pergi kadang mebuat aku gentar tuk melepas. Tetapi dalam keheningan meditasi ternyata aku adalah aku yang bukan tercampur warna dan percikan peristiwa. Semoga rohku tetap bersih saat aku menghadapNya kelak.

Topeng

Sudah kodratnya jika manusia selalu survive di dunia ini dengan berbagai macam cara. Sebagai manusiapun, penulis selalu menjadikan segala strategi tuk capai segala asa dalam hidup ini. Dan tanpa sadari, ternyata demi menyelamatkan diri tersebut, kadang kita tidak gentle dan berusaha menutupi segala kebobrokan mental dan spiritual kita. Hari demi hari melewati mesin nafas yang akhirnya akan berakhir, penulis berusaha membuka segala kemunafikan. Kemunafikan yang semu dan kadang membuat ego semakin liar dan tak terkendali. Hal ini membuat jalan yang dilalui seperti ujung jalan yang akhirnya adalah bukit yang terjal dan curam. Maka tidak ada jalan lain jika kita haru membuka topeng kepalsuan yang sudah mengerat di kulit wajah roh kita. Walau pada awalnya darah akan mengalir, dan terlihat wajah asli kita, tetapi percayalah dengan membuka segala topeng dalam hidup ini niscaya hidup akan kembali bersemi dan pantulan kesejatian akan terlihat di setiap manusia yang kita temui dan hidup akan diperkaya. Dan jika topeng telah terbuka dan tak ada lagi kepalsuan dalam hidup kita, kita akan tahu lebih jernih setiap kejadian yang benar dan salah sehingga jalan yang akan kita pilih tidak akan menyesatkan apalagi mengaburkan identitas dan makna kehadiran kita.

Magdalena

Kupandangi perempuan itu di depanku. Tak henti-hentinya air mata yang tumpah merobek langit kesedihan dan penyesalan. Anak Manusia di dekatnya dengan kasih yang besar menumpangkan tanganNya di atas kepala perempuan itu.
“Dosamu telah diampuni,” kataNya. Udara dengan lembut menyisir dan menyibak rambutnya yang hitam tergerai. Kata-kata Anak Manusia itu meruntuhkan gunung yang terjal di relung hati setiap manusia. Menggemakan kidung agung surgawi yang tertiup sangkakala. Ah perikop di depanku membuatku menangis sedih dan haru akan begitu besar kasihNya. Tenggorokan yang kelu hanya bisa berkata lirih tapi tak terdengar karena udara bagai diam di ujung nafas. Kucoba ikut bersimpuh namun kaki ini bergetar dan berputar dalam pijakan kehadiran.
Lalu saat kulihat di sekeliling, orang Farisi, pemuka agama, dan Saduki semakin memandang sinis perbuatan Anak Manusia. Namun dengan tatapanNya yang teduh, kesinisan yang bagai api itu lama kelamaan hancur dalam es yang beku dan terjelma ketelanjangan dalam diri mereka.
Ya, mereka ternyata juga adalah pelacur. Pelacur yang menistakan tubuh demi kesenangan sesaat, menjual kehormatan demi kekuasaan, dan melacurkan ajaran agama demi kepentingan ego yang selalu warnai kemunafikan.
Magdalena, perempuan itu, menjadikan aku menyadari bahwa keberanian pertobatan akan mentahirkan hidup yang makin lama kehilangan makna dan harapan. Terima kasih Santa Maria Magdalena.

Jangan Kotori Lagi

Adakalanya ruang hati yang damai terusik suara sumbang. Suara yang kadang membuat imaji jadi liar dan tak terkendali. Hingga ruang yang semestinya sebagai tempat tuk bertobat dan pertemuan dengan Sang Khalik dikotori ego. Ah kamu lagi membawa beban yang tak pantas masuki pintu ini. Memaksa kidung yang tak kan kulagukan menjadi mars hidupmu. Adakah pintu hati dan air sucimu tuk aliri pohon kehidupan? Ataukah kau akan kotori dengan sarang-sarang daun lusuhmu? Mari sobat, kita jaga ruang hati ini. Jadikan kenisah yang murni tuk persembahkan kidung setiap galau hati yang semoga kan pupus di ujung nafas. Tuhan, saat galau sirna dan rumah ini terbongkar dalam kerinduan akanMu, semoga Kau tinggal di ruang hatiku utuh.

Minggu, 04 Oktober 2009

Gerbong Barang Kereta Progo

Di mulai dari antrinya tiket di loket yang tak bersahabat, aku mencoba beringsut dalam antrinya calon penumpang. Tak ada tawa, tak ada senyuman, yang ada wajah tegang nan lesu. "Tak ada tempat duduk, siapa yang cepat dapat pasti dapat tempat duduk!" teriak seorang petugas berseragam biru di belakang kaca ( seakan sekat yang memisahkan pemilik dan pengguna atau barangkali lambang pembuat kebijakan dengan rakyat kebanyakan? Aku tak tahu ). Pas giliran saya sampai di depan loket ada seorang laki2 entah siapa menyerobot antrianku. Dia sangat pongah dan "kemanthil", dengan sabar aku berkata,"antri mas, biasakan tuk antri". Dia tak jawab hanya pandangi dengan tatapan seperti serigala yang lapar. Yah, sebenarnya aku ingin pukul dia atau barangkali aku ingin berkelahi tapi kuurungkan dengan sesak dada yang ingin membuncah. Demi istri dan anak aku pendam emosi ini. Untung dia tidak rasakan pukulan atau tendangan yang kulatih bertahun-tahun, yang jelas saat kurasakan energinya yah paling cuma sepertiga energi totalku ( agak sombong dikit lah ). Ah, lupakan aja orang itu, mungkin ada sanak saudaranya yang meninggal, atau mungkin dia kebelet pipis, atau barangkali dah karakternya, atau barangkali wakil karakter rakyat yang sudah jenuh terhadap antrian ini? kalau sudah sampai rakyat yang bicara, aku hanya ingin wakil rakyat yang habiskan APBN itu juga rasakan antrian panjang. Tapi jelaslah, itu tidak mungkin karena seperti ada tembok di negeri ini antara pemimpin dan rakyat, atau (katanya) wakil rakyat dengan rakyat yang diwakilinya. Sudahlah, sungguh capek mikir negara ini. Lebih baik mikir cari uang tuk istri dan anak yang selalu setia menunggu di rumah. "Sabar sayang, doa kami tukmu," terngiang nasehat istri. "Pa, Pi dan mama sayang Papa," terngiang juga suara anakku mbarep. Demi mereka lagu hidup ini akan kunyanyikan dengan hymne yang suci dan arrensemen yang merdu.
Sampai di gerbong, sudah penuh, tersembul wajah seorang nenek dengan gigi ompong di depan berkata," Sudah pefnuh Mafs." Akupun hampir tertawa, tapi gak enak karena dari adat leluhur tidak boleh tertawakan orang tua, aku sih bayangkan gimana ya wajahku kalau sudah tua, masih cakep dan ganteng seperti saat ini atau dah keriput? Gak tahulah, yang jalas, waktu dan Tuhan yang akan tentukan formula yang pas dengan karakter yang kumiliki terhadap wajah ini. Akupun mencoba mencari di gerbong yang paling belakang,"Sip akhirnya aku dapat masuk walau di bordes". Saat kupalingkan, ternyata di Toilet sudah penuh dengan satu keluarga. Ada bapak, ada istrinya, juga ada empat anaknya yang masih kecil, dan ... satu nenek yang duduk di toilet duduk. Ah, andai Bapak2 dan Ibu2 di Senayan sana melihat pasti mereka menangis (kalau masih punya hati) atau barangkali tertawa atau sebagai bahan tuk membuat dagelan karena wakil rakyat negara ini banyak komedian sehingga bisa juga menjadi bahan lawakan. Atau barangkali mereka dengan gaya khasnya di depan kamera TV sok sedih, sok menangis, sok jumawa sebagai pemimpin ( kan banyak juga yang artist? ) Tapi jujur saja, doa rakyat di sini ( di gerbong Progo ini ) pasti sangat baik dan benar di hadapan Tuhan agar pemimpin dan wakil rakyat ini semakin peduli dengan mereka, semoga. Lagi enak2nya melamun, ada segerombolan orang berlari2 menuju gerbong yang sepertri gerbong barang. Karena tertarik, akupun mencoba keluar dari gerbong ini dan ikut lari. Benar saja, gerbong ini peruntukkannya tuk barang bisa motor, atau mungkin kiriman seperti TIKI atau sejenisnya. Aku pun dengan sekuat tenaga loncat ( tapi bukan seperti bajing loncat ) dan temukan ruangan yang lebih lega tuk duduk. "Trima kasih Tuhan," teriak hatiku. Walau mendapat hanya tempat duduk tuk "lesehan" aku pun sudah senang seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Ternyata tidak hanya aku, ada secerah senyum dari teman2 seperjuangan di sini. Hai, wakil rakyat! Yang kami butuhkan bukan uang hasil korupsi kalian, yang kami butuhkan adalah kenyamanan yang menjadi hak milik kami, sekali lagi, jangan kau rampas hanya demi perut buncitmu! ( kok malah kampanye? tapi kampanye tuk siapa? tuk apa? )
Detik pun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 17:00, harusnya dari tiket berangkat pukul 16:45, kok belum berangkat? Yah, makhlum lah, memaang negara dan birokrasi semua sendi harus belajar menghormati waktu, karena waktu tak dapat diputar mundur, waktu adalah abadi dan tetap menjadi wakil setiap peristiwa entah jaya atau bubrahnya negara ini ( kok aku jadi malah senewen dengan negara ini?) Tapi yang jelas, aku masih bangga kok menjadi bagian dari rakyat kebanyakan ( miskin ) dan warga negara ini karena negara ini diperjuangkan kemerdekaannya lewat tetesan keringat dan air mata dari pendiri, pejuang, dan kaum cerdik pandai ( termasuk kakekku yang berani angkat senjata di Palagan Ambarawa). "Kek, semoga Kakek tidak kecewa terhadap penerus pendiri ini, Doakan ya Kek, kalau bisa cucumu ini menjadi bagian rakyat yang masih mencintai NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara ini. Hidup Pancasila! - lhah aku kok malah histeris gini sih ..?)
"Bung, rakyat akan selalu berjuang, Bung negara ini kutitipkan kepadamu, Rombak segala penyimpangan2 tuk kepentingan pribadi, Bung, doa kami selalu tukmu."
Tapi aku takut jadi wakil rakyat, atau pemimpin negeri ini setelah aku baca pikiran Sokrates tentang kekuasaan adalah uang, dan uanmg adalah kekuasaan. Eit tunggu dulu, sergah hati nuraniku. Yang dikatakan Sokrates memang benar, tapi itu adalah kekuasaan, bukan pemimpin sejati. Pemimpin sejati adalah melampui keinginan tuk tiran, tapi demi keberlangsungan kehidupan rakyat yang lebih baik. Yah, jika ada wahyu dari Tuhan, aku ingin merombak negara ini terhadap KKN dan tidak akan kugadaikan republik ini terhadap inteferensi asing, akan kubuat menjadi Indonesia baru yang lebih adil, beradab, dan berbudaya.
"Teman2 tinggal diberi adonan tepung beras, dan diberi bumbu, kita di sini bisa dibuat rempeyek." kata seoarang Bapak di dekatku dengan gaya banyolan khas Jogja. Kontan saja seluruh penumpang tertawa lepas. Yah memang benar, andai kau di sini, kami ini mirip sekumpulan teri yang diasinkan, jadi tinggal digoreng dan dimakan tuk penggelembungan pundi2 kekayaan salah satu BUMN di negeri ini, atau secara makro ya tadi... buat pemimpin dan wakil rakyat yang tidak merakyat. Belum sampai aku membatin kata2 tersebut, ada seorang Bapak dengan pakaian PKD dengan kumis yang tebal dan tatapan yang sok kejam, berkata, masuk semuanya jangan di luar, dan tentu saja rakyat yang saat ini "didaphuk" sebagai rakyat miskin beringsek ke dalam, makin lama gerbong ini penuh sesak dan membuat aneka parfum dari minyak telon, minyak kayu putih, sampai parfum murahan bertebarab di sekelilingku. Akupun batuk2 kecil tuk usir kesumpekan ini. Aku bayangkan andai Bapak tadi galak sama pemimpin yang korupsi, terhadap wakil rakyat yang mencekik leher rakyat, mungkin negara ini akan aman sentosa. Andai ABRI benar2 tuk rakyat, mungkin tidak ada rakyat yang takut tapi malah merasa aman lha wong mereka adalah pengayom rakyat kok. Pernah aku ke kantor Polisi bersama istri dan anakku. Istriku bilang,"Papa gak takut banyak polisi?" Kaupun menjawab dengan tertawa,"Ma, Ma, Polisi itu tugasnya melindungi dan mengayomi kita kok malah takut sih? Kita takut kalau kita memang nyuri kambing atau nyopet nenek2 peyot." Istriku yang kulihat wajahmu ada ketakutan menjawab," Itu karena Bapakmu Polisi." Pi kecilku pun tak kalah bilang," Iya Eyang Kakung kan Polisi Pa, jadi Pa gak takut ." Akupun senyum kecut. Wahai Polisi Indonesia, kami sekeluarga ( ada keluarga yang lain tidak ya?) ikut mendukungmu, berantas koruptor penjarah uang rakyat, rombak segala birokrasi yang sarat KKN, dan semoga Anda juga bersih dari uang siluman ( semoga para ABRI dapat membersihkan benalu2 yang menempeli seragam mereka agar dalam bertugas dapat murni tuk rakyat).
Tak terasa, lelah juga pikiran ini berandai2 dan akupun jatuh tertidur, bangun2 sudah tiba di Jatinegara. Dengan radsa kantuk yang masih menyergap dan badan yang pegel2 semua, aku pun mempersiapkan diri tuk turun dui stasiun Senen. Jakarta, aku kembali dengan doa seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Jakarta, kadang aku takut tuk kembali, karena banyak serigala yang siap menerkamku. Jakarta, aku kembali dengan sisa tenaga tadi malam. Jakarta, aku kembali tuk mengais rejeki di meja2 makanmu tuk istri dan anak yang setia di Jogja. Jakarta, semoga engkau tidak segarang penampilanmu, semoga masih kutemukan sobekan hati yang murni dan suci.Amin