Suatu hari, seorang teman bercerita tentang beban hidupnya. Beban yang kadang2 menghimpit dan meninabobokkan akan pendewasaan hidupnya. Tanyanya kepadaku, apakah beban akan selalu menjadikan hidup makin dewasa? ataukah menjadi kita hancur lebur? Aku pun berusaha mendengarkan segala keluh kesah yang terasa membuncah dalam diamnya selama ini. Sudah hampir 2 jam, dia menghela nafas, lalu terucap kata, ini salibku, aku harus berusaha tuk berjalan sampai di firdausNya. Aku pun sebenarnya malu sendiri, ternyata aku terlalu berlama-lama di kubangan, dan lama tuk menyadari akan kekinian. Kau pun tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih karena mau mendengarkannya. Ku lihat kau pun tinggalkan aku, lama kelamaan punggungmu hilang tertutup daun seakan hilangkan tak berbekas akan hadirmu saat tadi.
Aku pun termenung, merasakan, memikirkan, dan menyelami apa hidup ini. Orang bijak pernah berkata padaku, urip ki mung mampir ngombe. Kalau diartikan, hidup laksana seorang pengembara yang pada akhirnya akan pulang ke rumahNya. Dan saat pulang nanti, Dia akan bertanya pada kita, apa yang kaudapatkan Nak? Jika kita menjawab, Kau memberikan 'sangu' padaku satu sen dan selama pengembaraan ini aku gunakan sebaik-baiknya hingga menjadikan uangMu 10 sen. KataMu, ah, kau memang hambaKu yang baik. Apa arti perkataanNya itu ? Uang yang diberikan kepada kita sebenarnya adalah kemampuan spiritual yang diberikanNya kepada kita. Kemampuan untuk memutuskan mana yang baik dan benar agar hidup ini menjadi berkah bagi sesama. Berkah tuk berbagi dan berkah tuk beri kehidupan menjadi lebih baik. Seorang manusia sejati akan mendayagunakan uangNya untuk membayar segala salib-salib hidupnya, dan menggadaikan dalam tanganNya, niscaya, uang tersebut akan bertambah karena bankNya adalah pemurah lagi pemaaf. 10 sen lambang bahwa setelah manusia menguasai 1,2,3,4,5 ( panca indera ), 6 ( mata ketiga ), 7 (tujuan dalkam hidupnya ), 8 ( selalu berpikir ke depan ), 9 ( menjadikan angka sempurna tuk selalu dermawan), maka akan kembali ke asal muasalnya yaitu 1 dan 0 ( mendapat kekekalan dalam hidupnya).
Dalam hening di tuympukan meja kerja, dan ditemani buku2 yang berserakan, juga kesendirian, aku pun ingin mengatakan, selalu berjalanlah tetap pegang'sanguNya' agar suatu saat nanti, jika pengembaraan ini usai, aku dapat mempertanggungjawabkan jejak hidup ini. Amin
Rabu, 11 November 2009
Kamis, 05 November 2009
Belajar Seperti Pandawa
Saat senja merobek hatiku yang kangen pada bapak dan ibu, aku mulai mencari handphone yang sudah ketinggalan jaman, walau usang dan lama aku tetap senang dengan hp ini, yah jelas ada kenangan dengan istriku tercinta ...lho kok malah ngomongin hp, piye tho?
Maaf Pak Buk ... he he ...
Aku mulai pencet no hp yang jelas di luar kepala, lalu ada nada sambung, dan terdengar suara bapakku yang jelas, keras, dan mantap. Ya jelas, lha wong semangat prajurit tetap membekas di darah bapak, apalagi darah kakek juga seorang veteran... keras, penuh semangat. " Hallo, Sapa iki Danang ? Panji ? Setyo ? , yah bapak gak bisa bedain suara anaknya yang ganteng ini... "Ini Setyo Pak," jawabku mantap. Bapak tertawa, katanya suara anak2 nya sama baik Yok, Nang, dan Nji. " Ada apa le ?" kata Bapak. Akupun tak bisa bicara apa2 lha wong dengar suara Bapak, buat semangatku kembali bangun lagi kok he he ... ."nembe napa Pak?" " Bapak baru duduk2 sama ibumu," jawab Bapak. " Gak kok Pak hanya nanya kabar Bapak Ibu aja, Iyok di sini baik2 aja.. ". " Bagus, sama Bapak dan ibu juga sehat-sehat saja." Lalu mulailah percakapan biasa antara orangtua dan anak. Pada kesempatan ini aku curhat aja tentang segala keberhasilan2 teman2ku, dan Bapak Ibu pun menanggapinya dengan bijak.
Ada kata-kata Bapak yang masih terngiang saat ini yang membuat untuk selalu bertahan dalam hidup ini. Katanya," Le apakah kamu lupa dulu waktu kecil sering Bapak ajak nonton wayang kulit?" Ya aku jelas ingat lha setiap ada pertunjukkan itu baik di Polres atau di Kodim, bapak dapat undangan, dan kadang malu juga kalau dianggap orang yang punya jabatan. Tapi jaman sekarang beda, banyak orang yang gila jabatan, merasa dirinya penting, merasa pantas dihormati, tapi dari hatinya sangat tidak bermartabat. Coba kita lihat permusuhan antara KPK dan Kepolisian dibantu Kejaksaan, Tim Pembela Hukum. Bah buat perutku mual ( jadi ingat istriku yang baru hamil anak kedua kami - baru mual ) tapi jelas, kadang negara ini perlu reformasi total, ekstrem, kalau tidak ya ... tunggu kejatuhan saja. Lha kok malah ngomong negara sih .... "Ya Pak, saya ingat," saat Bapak manggil,"Le kok malah ngalamun tho?" " Nyuwun ngapunten Pak he he ..."
"Kamu memperhatikan pandawa lima Le, bagaimana wajahnya? Dia menunduk. Tidak seperti kurawa yang wajahnya 'ndlangak'. Itu ada maknane Le. 'Ndhingkluk' kuwi artine wong kuwi kudu delok ngisor, aja ndelok ndhuwur, kudu iso rendah hati, aja umuk lan gumedhe. Wong kuwi kudu merakyat, memperhatikan nasib wong2 kesrakak, aja ndelok wang sugih sing ketoke gampang uripe nanging kelangan jatine urip. Aja kaya kurawa, ora ndelok ati sing sabenere iyo ati kang sejati, iyo jati dirine. Mula le, kowe latihan urip kaya pendawa sing tetep nyekel astabrata, dadi urip kowe,boj, lan anak2 mu yo putuku bakal slamet ing mburi mengkone". Wah, nasehat bapak sungguh mengena dalam hatiku. Nasehat yang membuat bagaimana dalam mengarungi hidup ini. Ya seperti Pandawa tadi, hidup rendah hati, jujur, tidak sombong walau punya ilmu linuwih, dan yang jelas selalu empati pada sesama. " Le, lha kok malah ngalamun maneh tho?" " Inggih Pak, Setyo janji badhe sinao sami Pandawa." " Nah, ngono, Bapak lan Ibu mung bisa ndongakke kowe, muga2 gek ndang dadi siji karo Tutik lan anak2 mu." " Matur nuwun Pak." Jawabku.
Ibuk pun membenarkan kata-kata Bapak. "Le, tirunen Simbah2 mu, urip prasojo, urip jujur, lan aja iren. Muga2 Gusti mberkahi kowe anakku." " Maturnuwun Buk," jawabku tak tahan suara ibuku. Ibuku adalah orang yang lembut dan keras terhadap prinsip. Dan semangat pantang menyerah selalu ibuk dengungkan dalam hidupku. Trima kasih Tuhan Engkau memberi Bapak dan Ibuk yang sangat mencintai anak2 nya dengan segala kasih dan cinta yang tulus. Aku pun pamitan dan minta doa restu dari Bapak Ibu tercinta. " Nuwun Pak, Buk, sugeng sonten, Gusti mberkahi Bapak lan Ibu."
Kupencet simbol no di hp tuk mematikan percakapan ini. Sungguh, aku sangat bersyukur, semoga dalam hidup selanjutnya, aku semakin belajar untuk jujur, rendah hati, tidak sombong, dan penuh empati pada orang lain. Tuhan, kupasrahkan hidupku dan pengembaraanku di dunia ini. Amin.
Maaf Pak Buk ... he he ...
Aku mulai pencet no hp yang jelas di luar kepala, lalu ada nada sambung, dan terdengar suara bapakku yang jelas, keras, dan mantap. Ya jelas, lha wong semangat prajurit tetap membekas di darah bapak, apalagi darah kakek juga seorang veteran... keras, penuh semangat. " Hallo, Sapa iki Danang ? Panji ? Setyo ? , yah bapak gak bisa bedain suara anaknya yang ganteng ini... "Ini Setyo Pak," jawabku mantap. Bapak tertawa, katanya suara anak2 nya sama baik Yok, Nang, dan Nji. " Ada apa le ?" kata Bapak. Akupun tak bisa bicara apa2 lha wong dengar suara Bapak, buat semangatku kembali bangun lagi kok he he ... ."nembe napa Pak?" " Bapak baru duduk2 sama ibumu," jawab Bapak. " Gak kok Pak hanya nanya kabar Bapak Ibu aja, Iyok di sini baik2 aja.. ". " Bagus, sama Bapak dan ibu juga sehat-sehat saja." Lalu mulailah percakapan biasa antara orangtua dan anak. Pada kesempatan ini aku curhat aja tentang segala keberhasilan2 teman2ku, dan Bapak Ibu pun menanggapinya dengan bijak.
Ada kata-kata Bapak yang masih terngiang saat ini yang membuat untuk selalu bertahan dalam hidup ini. Katanya," Le apakah kamu lupa dulu waktu kecil sering Bapak ajak nonton wayang kulit?" Ya aku jelas ingat lha setiap ada pertunjukkan itu baik di Polres atau di Kodim, bapak dapat undangan, dan kadang malu juga kalau dianggap orang yang punya jabatan. Tapi jaman sekarang beda, banyak orang yang gila jabatan, merasa dirinya penting, merasa pantas dihormati, tapi dari hatinya sangat tidak bermartabat. Coba kita lihat permusuhan antara KPK dan Kepolisian dibantu Kejaksaan, Tim Pembela Hukum. Bah buat perutku mual ( jadi ingat istriku yang baru hamil anak kedua kami - baru mual ) tapi jelas, kadang negara ini perlu reformasi total, ekstrem, kalau tidak ya ... tunggu kejatuhan saja. Lha kok malah ngomong negara sih .... "Ya Pak, saya ingat," saat Bapak manggil,"Le kok malah ngalamun tho?" " Nyuwun ngapunten Pak he he ..."
"Kamu memperhatikan pandawa lima Le, bagaimana wajahnya? Dia menunduk. Tidak seperti kurawa yang wajahnya 'ndlangak'. Itu ada maknane Le. 'Ndhingkluk' kuwi artine wong kuwi kudu delok ngisor, aja ndelok ndhuwur, kudu iso rendah hati, aja umuk lan gumedhe. Wong kuwi kudu merakyat, memperhatikan nasib wong2 kesrakak, aja ndelok wang sugih sing ketoke gampang uripe nanging kelangan jatine urip. Aja kaya kurawa, ora ndelok ati sing sabenere iyo ati kang sejati, iyo jati dirine. Mula le, kowe latihan urip kaya pendawa sing tetep nyekel astabrata, dadi urip kowe,boj, lan anak2 mu yo putuku bakal slamet ing mburi mengkone". Wah, nasehat bapak sungguh mengena dalam hatiku. Nasehat yang membuat bagaimana dalam mengarungi hidup ini. Ya seperti Pandawa tadi, hidup rendah hati, jujur, tidak sombong walau punya ilmu linuwih, dan yang jelas selalu empati pada sesama. " Le, lha kok malah ngalamun maneh tho?" " Inggih Pak, Setyo janji badhe sinao sami Pandawa." " Nah, ngono, Bapak lan Ibu mung bisa ndongakke kowe, muga2 gek ndang dadi siji karo Tutik lan anak2 mu." " Matur nuwun Pak." Jawabku.
Ibuk pun membenarkan kata-kata Bapak. "Le, tirunen Simbah2 mu, urip prasojo, urip jujur, lan aja iren. Muga2 Gusti mberkahi kowe anakku." " Maturnuwun Buk," jawabku tak tahan suara ibuku. Ibuku adalah orang yang lembut dan keras terhadap prinsip. Dan semangat pantang menyerah selalu ibuk dengungkan dalam hidupku. Trima kasih Tuhan Engkau memberi Bapak dan Ibuk yang sangat mencintai anak2 nya dengan segala kasih dan cinta yang tulus. Aku pun pamitan dan minta doa restu dari Bapak Ibu tercinta. " Nuwun Pak, Buk, sugeng sonten, Gusti mberkahi Bapak lan Ibu."
Kupencet simbol no di hp tuk mematikan percakapan ini. Sungguh, aku sangat bersyukur, semoga dalam hidup selanjutnya, aku semakin belajar untuk jujur, rendah hati, tidak sombong, dan penuh empati pada orang lain. Tuhan, kupasrahkan hidupku dan pengembaraanku di dunia ini. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)