Rabu, 11 November 2009

Satu Sen

Suatu hari, seorang teman bercerita tentang beban hidupnya. Beban yang kadang2 menghimpit dan meninabobokkan akan pendewasaan hidupnya. Tanyanya kepadaku, apakah beban akan selalu menjadikan hidup makin dewasa? ataukah menjadi kita hancur lebur? Aku pun berusaha mendengarkan segala keluh kesah yang terasa membuncah dalam diamnya selama ini. Sudah hampir 2 jam, dia menghela nafas, lalu terucap kata, ini salibku, aku harus berusaha tuk berjalan sampai di firdausNya. Aku pun sebenarnya malu sendiri, ternyata aku terlalu berlama-lama di kubangan, dan lama tuk menyadari akan kekinian. Kau pun tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih karena mau mendengarkannya. Ku lihat kau pun tinggalkan aku, lama kelamaan punggungmu hilang tertutup daun seakan hilangkan tak berbekas akan hadirmu saat tadi.
Aku pun termenung, merasakan, memikirkan, dan menyelami apa hidup ini. Orang bijak pernah berkata padaku, urip ki mung mampir ngombe. Kalau diartikan, hidup laksana seorang pengembara yang pada akhirnya akan pulang ke rumahNya. Dan saat pulang nanti, Dia akan bertanya pada kita, apa yang kaudapatkan Nak? Jika kita menjawab, Kau memberikan 'sangu' padaku satu sen dan selama pengembaraan ini aku gunakan sebaik-baiknya hingga menjadikan uangMu 10 sen. KataMu, ah, kau memang hambaKu yang baik. Apa arti perkataanNya itu ? Uang yang diberikan kepada kita sebenarnya adalah kemampuan spiritual yang diberikanNya kepada kita. Kemampuan untuk memutuskan mana yang baik dan benar agar hidup ini menjadi berkah bagi sesama. Berkah tuk berbagi dan berkah tuk beri kehidupan menjadi lebih baik. Seorang manusia sejati akan mendayagunakan uangNya untuk membayar segala salib-salib hidupnya, dan menggadaikan dalam tanganNya, niscaya, uang tersebut akan bertambah karena bankNya adalah pemurah lagi pemaaf. 10 sen lambang bahwa setelah manusia menguasai 1,2,3,4,5 ( panca indera ), 6 ( mata ketiga ), 7 (tujuan dalkam hidupnya ), 8 ( selalu berpikir ke depan ), 9 ( menjadikan angka sempurna tuk selalu dermawan), maka akan kembali ke asal muasalnya yaitu 1 dan 0 ( mendapat kekekalan dalam hidupnya).
Dalam hening di tuympukan meja kerja, dan ditemani buku2 yang berserakan, juga kesendirian, aku pun ingin mengatakan, selalu berjalanlah tetap pegang'sanguNya' agar suatu saat nanti, jika pengembaraan ini usai, aku dapat mempertanggungjawabkan jejak hidup ini. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar