Senin, 19 April 2010

Lelah

Sudah jauh perjalananku. Suara kecapi yang timbul tenggelam kadang kaburkan anganku pada cita2 dan harapanku. Adakah air jatuh di gemericik air kan terbawa dalam sumber yang tak terbatas? Ataukah semua adalah sia2 tanpa makna yang tertulis di hamparan pasir? Hidup memang misteri. Hidup bawa kenangan2 yang tergores dalam tangis sesal. Tuhan, walau langkah kaki makin cepat dan terburu2 aku tetap menunggumu di gapura itu. Biar dingin dan panas datang menerjang. Biar masalah2 hidup buat menderukan degup jantung dan pikiranku,ku kan tetap bawa rosari mawar di pintuMu.
Tahukah Kau? Gerimis musim lalu robek silsilah moyangku. Berkendara dalam buaian masa lalu? Tuhan, ku ingin Kau tahu semua hatiku. Akhirnya hanya aku dan Engkau saja di meja perjamuan ini.

Kamis, 15 April 2010

Lagi

Lagi, darah itu mulai mengalir. Air matamu genangi tanah gersang di sudut hati ini. Jika diam itu adalah jawaban, janganlah engkau paksa aku tuk sibakkan kegalauan setiap senja. Jadi, tolonglah, Tuhan tidak pernah menghakimi kalau benar2 kita ini pantas dihakimi. Dialah Sang Maha Hakim, dengan apakah engkau akan menuntutku agar menjadi lebih baik dari duri? Lagi, darah mulai mengalir lagi. Kita harus sudahi atau darah segar nan baru akan mengalir di pematang hidup nantinya.

Senin, 05 April 2010

Di Ujung

Ranting yang patah saat angin menderu koyakan dahan di ujung pohon kehidupan. Sangat terluka dan membiru dalam kekekalan penyesalan. Nestapa yang hilir mudik bagai buritan yang tak pasti tentang tujuan. Sesuatu yang selalu tengadahkan untuk berdoa di tepi ranjang. Berikrar dalam kenisbian yang selalu bergoyang ditiup sangkakala. Duh Gusti, kodrat yang kekal semoga kekal. Tak ada tangis dan tak ada luka. biar darah terus mengalir di lambung dan tangisMu, kumohon basuhlah segala kesesakan yang seakan terjerembab dalam lubang yang sama. Dalam hening, senantiasa kuberharap, agar semua kan terbang di pelangiMu. Melihat hasil rendaan kehidupan yang kadang naik dan turun dengan corak warna yang memperkaya.