Minggu, 22 Mei 2011

Definisi Tuhan dari Pengamen

Minggu sore ini, langit begitu cerah, dan kulihat Engkau tersenyum di balik birunya sang cakrawala. Aku di sini, di antara semua orang yang berdesakan untuk mengais rejeki di ibu kota. Mungkin pikiranku sama dengan mereka.
Saat melewati kota wates, kulihat seorang pengamen, dia seorang perempuan. Masih muda, tapi ada sebersit kisah di matanya. Tapi entah dan membuatku untuk melihat dari pojok kursi yang setia menemani perjalanan ini.
Dia sedang bicara dengan seorang teman satu rombongan kereta. Tadinya aku tidak begitu memperhatikan. Tapi saat dia menggugat Tuhan dengan pertanyaan," Siapakah Tuhan?" Akupun terhenyak dan sangat kaget. Lalu dia mendefinikan,"Tuhan adalah di saat kita telah hilang harapan, dan semua jalan telah tertutup. Kita berani berteriak Tuhan, jika semua telah terjadi." Emm.. permenungan yang sangat dalam. Akupun mulai merenung, Siapakah Tuhan dalam hidupku? Perempuan itu mengaku, dia seorang Katholik ... sama denganku. Jangan2 aku hanya seperti orang kebanyakan dan tidak seberani dalam mendefinikan akan arti kepercayaanku. Sungguh, aku sangat disodok dalam permenungan yang lebih religius.
Dalam kegalauan, kulihat langit lewat kaca kereta ini, dan aku menyadari, aku begitu kecil di mataMu. Saat aku hendak bertanya pada perempuan sang pengamen, ternyata dia sudah turun di Stasiun Gombong, meninggalkanku dengan pertanyaan yang paling hakiki, mungkin aku ingin berguru padanya. Samar2 aku melihatmu ... hilang di tengah lautan manusia. Seakan Santo Yohanes Pembabtis, yang hilang dengan kata2 yang membuat bergidiknya nurani. Diam2 aku buat tanda salib, mengucap syukur padaMu ...membuat diriku untuk lebih ingin mengenalMu, Tuhan.

Senin, 02 Mei 2011

Titik Awal

Setelah kuselami hidup ini, banyak sekali jejak2 yang menjadikan aku merasa malu padaMu Tuhan. Kalau boleh, ambil saja segalanya yang ku miliki. Ku ingin membasuh jubahku yang kotor ini karena debu2 yang telah kulalui.
Jalan2 terjal dan berlumpur, selalu menjadikan arah jalanku. Semua hanya kulalui karena ingin mereguk isi yang kau ciptakan, tapi ternyata, aku salah langkah.
Tuhan, jika semua boleh kulebur dalam pelayanku padaMu, kuingin jadi trapis di setiap kehidupan yang akan aku lalui lagi, diam dan hening dalam hingar bingar dunia. Tuhan kupasrahkan hidupku, jadikan aku sebagai alatMu ... itu saja dan semua cukup bagiku. Amin