Senin, 14 November 2011

Tidak Selalu Harus Berwujud Bunga

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai
sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat
yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di
bahunya yang bidang.
Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam
masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai
merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu
telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar
sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan
saat-saat romantis seperti seorang anak yang
menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah
saya dapatkan.
Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan.
Rasa sensitif-nya kurang.Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan
suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta
yang ideal
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan
keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan
perceraian.
“Mengapa ?", tanya suami saya dengan terkejut."Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan," jawab saya.
Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di
depan komputernya, tampak seolah-olah sedang
mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya
semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak
dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa
saya harapkan darinya ?
Dan akhirnya suami saya bertanya," Apa yang dapat saya
lakukan untuk merubah pikiran kamu ?"
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab
dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat
menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan
merubah pikiran saya:
Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang
ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu
memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan
memetik bunga itu untuk saya ?"
Dia termenung dan akhirnya berkata,"Saya akan
memberikan jawabannya besok.
Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya
menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya
dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan...
"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu,
tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.
Saya melanjutkan untuk membacanya.
"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baik kamu'
datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan
tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal."
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi aneh'.

Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur
kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk
menceritakan hal-hal lucu yang saya alami."
"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu
dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu.
Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua
nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku
kamu dan mencabuti uban kamu."
"Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing
kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan
pasir yang indah.
Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah
seperti cantiknya wajah kamu."
"Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indahyang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati.
Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu
mengalir menangisi kematian saya."
"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan
saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya
tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki,
dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu."
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat
tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetapb erusaha untuk terus membacanya.
"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca
jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini,
dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah
ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang
sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu."
"Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang,
biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang
saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu.
Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia."
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya
berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil
tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah
mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur
hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat
memberikan
cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah
hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud
cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.
Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".


( Diambil dari berbagai sumber )

Kamis, 03 November 2011

Ha Ha Ha

Ha ha ha ha ha haaaaa....
haaaa... haaaa... haaaa
ahaaaaa... haaaaaaaaaaaa.. haaaaahahahahahahahaha
ha aha haaaa.. ha ha ha... haaa..haaa ..haaa..ha ha.. ha ha ha. ....

Perutku sampai kram ... tiba2, Engkau njawil aku.. ternyata tawaku gannggu tidurMu Tuhan ... Engkau tersenyum .. aku pun enggan tertawa lagi.

Tuhan, sebentar ya.. aku mau tertawa .. ha ha ha haha ...

Udah Tuhan. Udah cukup.

Rabu, 12 Oktober 2011

Lelah

Tuhan,aku lelah. Sangat lelah. Jatuh dan sudah tidak kuat lagi melangkah. Hati sangat remuk,gundah selalu tikam hari-hariku. Tuhan,sudah selesaikah jalan yang harus kulalui lagi? Apakah masih beberapa depa aku harus lanjutkan?
Aku ingin menangis,dan aku tidak takut malu untuk menumpahkan rasa hatiku ini. Biarlah air mata menjadi genangan yang langsung habis dibawah terik sang surya. Tuhan,apakah aku masih pantas lanjutkan hidupku? Tuhan, aku lelah, aku lelah.
Sungguh,bukankah hidup adalah anugerahMu? Tapi Tuhan,kenapa ini terjadi dalam hidupku? Hingga aku semakin letih, daannnnn... sekarang jatuh lagi.
Ahh.. bukah aku ingin menggugatMu. Aku hanya lelah saja. Cukup sudahkah Tuhan?
Tuhan... aku lelah.

Senin, 08 Agustus 2011

"What Jesus Meant"

Saat baca buku 'What Jesus Meant' buah karya Garry seorang pastor yang sangat suka menulis hasil devosinya pada Tuhan, membuat hati makin takut.
Dan saat menulisnyapun, sepertinya tidak pantas untuk menyebutNya, karena namaNya begitu besar di antara semua nama2 di bawah langit dan di atas langit.
Sungguh, hasil Devosi pastor Garry sangat menghenyakkan kesadaranku. Entah apa padanan kata yang pas, yang jelas, membuatku semakin tidak pantas selama ini.
DariNya, aku bisa belajar tentang ekstremis agama hati yang Dia wartakan. Suatu kontradiksi yang sangat sulit diterima akal sehat sebagai manusia yang fana.
Dan jika benar2 sebagai murid Jesus, aku harus berani jauh dari dunia tetapi merangkul dunia. Bagai garam yang mebuat asin air, tetapi bukan milik dari air itu.
Tiba2, saat aku melamun, dalam hatiku muncul Wajah Yang Sayu karena habis dikejar2 tentara Romawi dan dengan tajam melihatku, bahkan akupun tak bisa mengenaliNya,dan pelan tapi pasti, Dia berkata "JIka engkau melakukan sesuatu pada saudaraKu yang hina, engkau telah melakukan untuk Aku", akupun jatuh tersungkur dan hanya bisa menjawab, "ya Tuhan, jadikanlah hidupku menjadi berkat bagi orang lain, dan itu cukup buatku".
AMIN.

Kamis, 04 Agustus 2011

Tidak Usah Khawatir

Janganlah khawatir Tuhan. Aku baik-baik saja. Benturan-benturan hidup yang kulalui, sakit hati yang pernah merobek nurani, selalu menemaniku. Jadi, janganlah engkau memandangku seperti itu. Sakit hati dan benturan hidup sungguh mendewasakan aku, dan kadang membuat hati ini tahan banting, yaahh ... bisa juga sudah tahan peluru rasa. Ehm, peluru rasa? Tuhan, senyumMu sungguh cukup menyirami hati getir ini. Cukup Tuhan, aku akan selalu baik-baik saja. Jika suatu saat nanti aku tidak tahan saat perahu tubuh ini akan oleng, dan gempuran peluru rasa merobek hatiku lagi, kuambrukkan segala lelah ini sesaat saja. Dan, jika sudah hilang lelahku, aku janji akan melangkah lagi dengan senyum yang akan lebih mengembang dari waktu yang telah kulalui.
Tuhan, aku percaya, selalu ada Kamu. Jadi, janganlah mengkhawatirkan diriku, karena aku akan selalu baik-baik saja. Itu pasti.

Senin, 25 Juli 2011

Tetap Melangkah

Tuhan, jalan ini begitu berkerikil. Aku berusaha untuk tersenyum, namun bukankah aku membohongi diriku sendiri jika hati sangat perih dan kecewa? Aku berusaha menjadi yang terbaik, bukankah kebenaran menjadikan peningkatan spiritual?
LEwat jalan ini, aku belajar lebih, lewat tetesan keringat dan air mata leluhur, bukankah aku adalah biji yang tumbuh dari mereka?
Ku pandangi jalan di depanku lagi. Semoga obor di dalam hatiku tidak padam,terangi setiap kegelapan hati,jadikan sulur di setiap jejak langkahku.
Tuhan, semua kuserahkan padaMu. Kurindu jadi alatMu.

Senin, 18 Juli 2011

Saat Minum Teh

Saat senja, ditemani secangkir teh hangat namun sedikit manis, aku memandang cakrawala langit. Warna yang menyatu dengan panorama yang harmonis, seperti lukisan abstrak realis. Pikiranku menerawang namun kutahan agar tetap berpijak pada realita.
Sering terucap tanya akan hidup ini. Tentang segala sesuatu yang kadang membuatku tertidur,terlena,bahkan menyemangati setiap langkahku.
Ku seruput teh ini.. emm...sangat enak. Aku merenung kembali, ternyata segala sesuatu yang terjadi di bawah langit ini,kalau dijalani dengan suka cita dan bersyukur akan lebih berarti dan enak dijalani. Memang,tidak dipungkiri, kadang2 kita terjerembab dalam sempitnya pikiran. Itulah yang membuat dunia semakin sempit, dan setiap persoalan seperti tidak ada jalan keluarnya. Dan yang harus dilakukan adalah mengubah paradigma ini agar pikiran menjadi maha luas, sehingga segala sesuatu 'baca masalah/persoalan hidup' dapat dipikirkan dengan luasnya batin sehingga jalan keluar akan terbuka.
Emm... kembali kuseruput teh buatanku, sambil melihat langit yang penuh gambar awan2,semakin kusadari, Tuhan selalu tersenyum di setiap hidupku. Tuhan, ingin suatu saat nanti, aku dan Engkau menikmati teh bersama2 buatanku sendiri. Itu pasti.

Senin, 13 Juni 2011

1 Tahun Untuk Anakku Dikta ( 14 Juni 2011 )

Sayang, hari ini adalah ulang tahunmu. Pa sangat bahagia, engkau menjadi seorang anak yang lucu dan pintar. Hanya doa papa dan mama agar menjadikan engkau tahan uji di kehidupan ini, selalu berpegang pada tanganNya, menjadikan hari-harimu lebih berarti bagi Tuhan, orang tua, saudara, sesama, dan setiap orang yang mengunjungi di sudut hatimu. Sayang, maafkan papa, papa tidak bisa hadir di saat engkau tersenyum meniup lilin. Pa di sini, selalu mendoakanmu, papa janji, untuk ultahmu selanjutnya, akan selalu di sampingmu. Sayang, lewat goresan tinta ini, Pa mau mengucapkan : SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-1 ANAKKU TERCINTA ... BENEDIKTA SAMANTA DANUGRAHA ...
Jadilah seorang SAMANTA seperti cita2 papa mama ... Tuhan memberkatimu sayang ...

Minggu, 22 Mei 2011

Definisi Tuhan dari Pengamen

Minggu sore ini, langit begitu cerah, dan kulihat Engkau tersenyum di balik birunya sang cakrawala. Aku di sini, di antara semua orang yang berdesakan untuk mengais rejeki di ibu kota. Mungkin pikiranku sama dengan mereka.
Saat melewati kota wates, kulihat seorang pengamen, dia seorang perempuan. Masih muda, tapi ada sebersit kisah di matanya. Tapi entah dan membuatku untuk melihat dari pojok kursi yang setia menemani perjalanan ini.
Dia sedang bicara dengan seorang teman satu rombongan kereta. Tadinya aku tidak begitu memperhatikan. Tapi saat dia menggugat Tuhan dengan pertanyaan," Siapakah Tuhan?" Akupun terhenyak dan sangat kaget. Lalu dia mendefinikan,"Tuhan adalah di saat kita telah hilang harapan, dan semua jalan telah tertutup. Kita berani berteriak Tuhan, jika semua telah terjadi." Emm.. permenungan yang sangat dalam. Akupun mulai merenung, Siapakah Tuhan dalam hidupku? Perempuan itu mengaku, dia seorang Katholik ... sama denganku. Jangan2 aku hanya seperti orang kebanyakan dan tidak seberani dalam mendefinikan akan arti kepercayaanku. Sungguh, aku sangat disodok dalam permenungan yang lebih religius.
Dalam kegalauan, kulihat langit lewat kaca kereta ini, dan aku menyadari, aku begitu kecil di mataMu. Saat aku hendak bertanya pada perempuan sang pengamen, ternyata dia sudah turun di Stasiun Gombong, meninggalkanku dengan pertanyaan yang paling hakiki, mungkin aku ingin berguru padanya. Samar2 aku melihatmu ... hilang di tengah lautan manusia. Seakan Santo Yohanes Pembabtis, yang hilang dengan kata2 yang membuat bergidiknya nurani. Diam2 aku buat tanda salib, mengucap syukur padaMu ...membuat diriku untuk lebih ingin mengenalMu, Tuhan.

Senin, 02 Mei 2011

Titik Awal

Setelah kuselami hidup ini, banyak sekali jejak2 yang menjadikan aku merasa malu padaMu Tuhan. Kalau boleh, ambil saja segalanya yang ku miliki. Ku ingin membasuh jubahku yang kotor ini karena debu2 yang telah kulalui.
Jalan2 terjal dan berlumpur, selalu menjadikan arah jalanku. Semua hanya kulalui karena ingin mereguk isi yang kau ciptakan, tapi ternyata, aku salah langkah.
Tuhan, jika semua boleh kulebur dalam pelayanku padaMu, kuingin jadi trapis di setiap kehidupan yang akan aku lalui lagi, diam dan hening dalam hingar bingar dunia. Tuhan kupasrahkan hidupku, jadikan aku sebagai alatMu ... itu saja dan semua cukup bagiku. Amin