Minggu, 29 September 2013
Minggu Sore
Waktu yang seharusnya netral, kadang membuatku kesal. Bukan karena apa-apa, tetapi masa yang menjadikanku harus tetap pergi untuk berkarya di jakarta. Tapi, masih ada harapan dibalik semua peristiwa yang akan terjadi nanti.
Seperti biasa, ada ritual kecil saat ku mau pergi. Pertama pamit anakku yang mbarep, Stefani Jelita Danugraha. Kupangku dia, kutatap nmatanya, dan berkata," Papa berangkat dulu ya Ndhuk, belajar yang rajin, selalu berdoa, sayangi Mama dan Adik," Pi pun mengangguk dan memelukku. Setelah turun dari pangkuanku, anakku yang kedua sudah menunggu di dekat kakiku. kuambil anakku, Benedikta Samanta Danugraha, dan kuberkata," Dikta, Papa berangkat dulu ya Ndhuk, rajin belajar, selalu berdoa, sayangi Mama dan Mbak," Dikta pun terdiam sambil memandangi mataku, kupeluk Dikta, dan diapun memelukku.
Setelah Dikta turun dari pangkuanku, ku tatap istriku,Maria Dwi Astuti Danarti, kupamit sambil kupeluk, dan berkata,"Semua kulakukan demi keluarga kecil kita, Tuihan memberkati kita selalu," dan istrikupun menjawab," Hati-hati Papa, kami selalu menantimu dan waktu yang pas saat kita nanti bisa selalu bersama."
Aku pun menuju mobil yang selalu setia menemani keluargaku,Chritoporus, yang berarti Pelindung dalam Perjalanan. Setelah melambaikan tangan, akupun memacu mengejar bis "Jangkar Bumi" yang selalu setia menemani dalam perjalanan ke Jogja. Baru mau masuk pintu Bis, istriku telpon," Papa aku minta maaf, bekal makan malam tertinggal," Aku pun jawab,"Tidak apa-apa Ma, nanti aku beli di kereta." Dari seberang telpon, aku dengar anakku Stefi dan Dikta ingin bicara, lalu Dikta berkata," Papa,makan malamnya tertinggal, nanti Papa gak bisa makan, kasihan Papa, maafin Dikta besok Dikta ingatkan Papa," akupun mengelus dada, anakku yang baru 3 tahun sangat peduli dengan diriku, masih di seberang, anakku Pi, bicara sama adikknya,"Gak papa dikta, tdk usah mennagis, papa nanti beli di kereta, ya." Istrikupun berkata lewat telepon,"Pa, Dikta meneteskan air mata, anak-anak sangat menyayangi papa," sesak dadaku, dan kujawab," Hidup itu sarana belajar untuk lebih maju dalam rohani, dan tiap-tiap insan mempunyai salib-salib sendiri, yang menjadikan maju dan memahami inti hidup," istripun menyetujui dan berkata," Ya Pa, nilai itu harus selalu ada dalam anak-anak kita."
Tak terasa, kereta Progo melaju sampai di Kutoarjo, deing telpon dari no Hp istri masuk, dan setelah kuangkat, ada suara Dikta dan bertanya,"Papa sudah makan belum?" Kujawab dengan rasa sayang,"Ini mau pesan makan sayang," terdengar, dikta senang dan berkata," Makan ya Papa," kujawab," Oke."
Hmmmmm... hidup ini sungguh indah Tuhan, sungguh aku sangat bersyukur padaMu. Biarlah dalam perziarahan ini, kami keluarga Danugraha selalu ingat, bahwa hidup sangat berarti, dan selalu bersemanagat dalam kasih walau sekecil apapun yang dilakukan. Namun kasih sejati tidak akan hanyut saat badai menerjang hidup kami.
Tak terasa kereta Progo masuk Stasiun Senen, kulangkahkan kakiku dan berjanji, lakukan semua karya dan tugas demi Tuhan, keluarga kecilku, dan kemajuan sisi spiritualku.
Senin, 23 September 2013
Bumbu Dalam Kehidupan
Sebuah masakan menjadi sedap karena dimasukkan bumbu-bumbu yang dipilih oleh koki yang memasaknya.
Begitupun dengan kehidupan menjadi indah karena masuknya orang-orang yang Tuhan ijinkan dalam kehidupan seseorang.
Ada yang masuk seperti kunyit,walau penampilannya jelek, tapi sanggup memberi warna indah yang sulit dilupakan.
Ada yang masuk seperti bawang merah yang semakin lama bersamanya, semakin banyak air mata yang tertumpah.
Ada yang masuk seperti lada, walau nampak kecil halus,tapi memberi kehangatan.
Ada juga yang seperti cabai, yang menipu dengan warnanya yang menarik, tapi membuat keringat bercucuran.
Sahabatku, jagalah dan jangan sia-siakan mereka yang masuk memberi kebaikan dalam hidupmu! Serta syukurilah dan janganlah membenci mereka yang masuk menyakiti hidupmu, karena, merekapun juga berperan menyedapkan pribadimu!
Semuanya itu, Tuhan ijinkanmasuk untuk merubah segala yang tidak baik yang ada di dalam pribadimu menjadi baik.
Tuhan memberkati kita semua.
Rabu, 14 Agustus 2013
MAKNA KEPEDIHAN
Bagi yang masih belajar, makna kepedihan begitu menyiksa dan membebani langkah hidup ini. Suatu hari, peri kecil yang pernah menemaniku menemui lagi. Bekas air mata yang sembab menjadikan luntur keelokannya. Sayapnya pun patah terkulai. Dengan tertunduk dia bertanya,"Apakah kehidupan ini tidak adil?" Aku pun diam. Sebagai manusia kadang kepedihan membuat kita tidak bisa berpikir dan merasakan kalau Tuhan yang Maha Pengasih menjadikan kita lebih kuat dan tegar. Sebelum aku menjawab, dia berkata,"Bukankah Tuhan menjadikan kita harus hidup bahagia?".
Kucoba menatap matanya, dia pun tertunduk,aku ingat kalau aku menatapnya,aku seperti menelanjanginya, padahal tidak, mataku biasa saja, tapi buat dia, mataku seperti pedang yang siap terhunus. Aku pun menjawab," Kepedihan harus dirasakan agar kita tahu begitu manisnya kepedihan." Peri kecil seakan protes padaku, tapi sebelum dia berkata, kulanjutkan lagi,"Jika kita sudah mengetahui bahwa kepedihan adalah inti dari manisnya hidup, kita bisa melampui makna dualitas hidup. Sama seperti gelap dan terang, panas dan dingin, semuanya harus dilalui, karena kalau tidak, hidup seperti tidak lengkap. Dan kalau tidak lengkap, kita bukanlah murid yang lulus dalam hidup ini."
Peri kecil seakan mencerna perkataanku. Dia pun menjawab,"Jadi sudah suratan takdir bahwa seua yang kita alami adalah bagian dari perencanaan agar kita menjadi pribadi roh yang lebih dewasa?"
Aku pun tersenyum dan menjawab," Ya, begitulah hidup, di balik suatu peristiwa, ada campur tangan Maha Kuasa, hidup harus dijalani sehingga kepedihan jangan menjadikan kita pupus, justru dengan kepedihan, kita dapat menemukan manisnya kehidupan."
Ku lihat, peri kecil pergi menuju cahaya, meniinggalkan aku seorang diri di taman Firdaus ini.
Minggu, 07 April 2013
TBE 2013
Waktu Tuhan selalu indah pada waktunya.
Terima kasih Tuhan. Kupersembahkan ini kepada :
1. Allah Bapa
2. Allah Putra Yesus Kristus Sang Juru Selamat
3. Allah Roh Kudus
4. Maria Dwi Astuti Danarti
5. Stefani Jelita Danugraha
6. Benedikta Samanta Danugraha
7. Petrus Suroso Surjanto
8. Maria Machrina Suprihatin
9. Yohanes Basuki dan Yayah Maria dan keluarga
10. Albertus Danang Adi Putra dan keluarga
11. Henrikus Panji Kurniawan
12. Leluhurku Eyang Sumowijoyo, Eyang Darmosuharjo
13. Roh yang selalu menemaniku di setiap waktu.
Semoga Tuhan senantiasa memberi anugerah dan berkat yang melimpah.
Rabu, 03 April 2013
Pertanyaan Pi Dan Ta
Saat pulang dari Jakarta, anakku Pi dan Ta bertanya tentang Tuhan. Tanya yang sangat menggelitik buatku sebagai manusia yang masih lemah dan banyak dosa ini. Kadang aku sempat kagum, juga takut di saat aku dan mamanya tak bias menjawab.
"Pa, apakah Tuhan sangat berkuasa?" Tanya Pi. "ya sayang, itu jelas, Tuhan sangat berkuasa"jawabku tegas Dan spontan. Lalu Pi bertanya lagi,"siapakah yang menciptakan Allah Bapa?" Akupun sempat kaget, pertanyaan yang sempat aku tanyakan sewaktu masih kuliah,yang aku kubur di dalam pencarianku sebagai hambaNya.
Dengan tenang,aku jawab,"Tuhan itu Maha Kuasa,tidak ada yang menciptakanNya".
Pi terdiam,mungkin asyik dengan lamunan khayalnya seumur 6,10 tahun. Ya,mungkin dia sudah puas dengan jawabku. Aku tersenyum,namun senyumku Berubah menjadi 'mlongo' saat mulut kecil putriku Kembali bertanya,"Bagaimana Allah Bapa menciptakan diriNya sendiri?"
Aduh,aku belum bisa menjawab,bahkan tidak bisa, karena semua Adalah misteri.
Untuk menjawab Pi, aku ceritakan tentang santo Agustinus yang mempertanyakan tentang Tuhan. Dan akhir dari cerita,aku katakan,"ndhuk,kadang dalam hidup ini,tidak semua dapat dipikirkan dan diselesaikan dengan rasio,perlu campur tangan Dari Yang Kuasa. Yang penting,Pi percaya saja, seperti Thomas sang murid. Dan sekarang lakukan semuanya dengan baik sesuai dengan perintahNya." Pi pun tersenyum Dan mengangguk tanda setuju.
Sewaktu di gereja,Dan kebetulan hari Raya Paskah, baru konsentrasi masuk di alam meditasi, anakku Ta, tanpa malu-malu bertanya dengan suaranya yang keras bertanya,"Pa, mengapa Tuhan disalib?". Aku dengan reflek menoleh dia. Tdk hanya aku,semua mungkin yang dengar pertanyaan anakku pasti menoleh. Semoga Pastor di altar tdk mendengarnya. Aku bisikkan di telinga Ta. Dan kujawab,nanti sesampai di rumah,papa ceritakan pada Dikta. Ta pun mengangguk setuju, Dan tangannya yang kecil Dikatupkan. Met berdoa Ndhuk,mari kita puji Tuhan dengan segenap Akal budi, dengan segenap hati.
Langganan:
Postingan (Atom)