Selasa, 16 Februari 2010

Rabu Abu 2010

Saat nyenyak dalam dinginnya pagi, alarm di hp membangunkan aku dengan suara yang tak asing lagi. 'Sudah pukul 04:30'batinku. Kuhidupkan lampu di kamarku, sayup2 saudaraku sedang berdoa di masjid ujung jalan itu. Doa itu mengingatkanku untuk membuat tanda salib, dan kuhaturkan terima kasih pada Sang Khalik atas penyelenggaraanNya Yang Maha Baik sehingga aku bisa bangun dalam keadaan yang sehat. Kubuka pintu kamar, dan kuhirup bau tanah sisa hujan tadi malam. Lalu dengan bergegas, aku pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuh titipanNya ini.
Jam 6:00 tepat, dentang lonceng gereja mengajakku untuk melangkahkan kaki dan batin ini. Ada kerinduan yang sangat saat air suci itu meresap dalam dahi, dada, dan kedua bahuku. 'Tuhan, aku datang dengan segala dosa dan pertobatanku,'batinku.
'Abu sebagai lambang bagi manusia akan kerapuhannya, semula yang berasal dari debu akan kembali menjadi debu. Dari kerapuhannya itu, kita dicintai, dan diselamatkan dari dosa, sehingga kita menjadi lebih berarti dan kudus. Koyakanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbuatlah yang baik dan benar dan cukup yang melihat adalah Bapamu di tempat tersembunyi. Marilah dalam masa prapaskah ini, menjadikan kita lebih mendengarkan Dia, menyerahkan segala hidup ini terhadap kehendakNya,'kata pastur dalam kotbahnya.
Setelah 1 1/4 jam, misa berakhir. Dlam perjalanan pulang, terbersit pikiran, ternyata hidupku hanyalah karena cintaMu semata, dan tanpaMu hidupku tidak ada artinya. Tuhan, semoga hidup kami menjadi semakin bersinar seperti bintang di cakrawala langit dan akhirnya luruh dalam gugusan firdausMu. Amin

Selasa, 09 Februari 2010

Embun

Adakah yang tahu bahwa pagi2 sekali aku terbangun ingin mengumpulkan embun di atas daun. Ah, tak ada yang tahu mungkin hanya Engkau sayang. Sampai detik ini, aku suka sekali embun. Pertemuanku dengannya dimulai saat aku menangis karena rasa sedih yang sangat. Sedih pada hidup yang koyakan jati diriku. Membuat sakit orang2 yang ku kasihi. Menjadikan oase yang kadang timbul dan lenyap di depan langkahku. 'Kamu telah berubah saat engkau menjadi matahari,'kata suara saat aku membuka jendela sewaktu pagi. Aku mencari asal suara itu, dan sebuah butir embun menetes di keningku. Ada rasa yang tak pernah kurasakan. Embun itu merembes dan bersatu dengan sisa tangisku tadi malam. Ada perbincangan antara air mataku dan embun. Lamat-lamat aku mendengar mereka berdua. 'Sobat,telah lama aku mencarimu. Di saat senja aku mencari pada ranting pohon. Bahkan sewaktu pagi aku selalu menunggumu di atas daunnya, dan ternyata engkau di sini terpenjara dalam tubuh manusia'. Jawab air mataku,'Iya sobat, aku kerasan di sini, aku ingin menghibur hati manusia yang sedang dirundung kesedihan, tahukah sobatku embun? saat manusia sedih, jiwanya menggigil, sarafnya mengejang, dan jantungnya berdegup kencang? itu juga terjadi saat manusia sedang dalam kebahagiaan. Aku ingin berbagi dengan mereka, membasuh jiwanya agar menjadi manusia yang selalu sadar akan hidup ini.' Embun itu mengangguk2 dan lirih berkata,'Sobat, sangat berartinya hidupmu, alangkah sucinya misi hidupmu.' Air mata ku pun menepuk pundak embun dan berkata,'jadilah yang terbaik saat engkau di mana saja Sobat.' Lalu aku lihat mereka berpelukan, lalu aku tak bisa membedakan mana embun dan mana air mataku. Semuanya sama, hanya peran mereka di dunia ini yang berbeda. Itulah mengapa, diam2 aku ingin mengumpulkan embun setiap pagi. Mencari di setiap lekuk daun, di mananapun. Jadi Sayang, jika Engkau terjaga dan tidak melihatku di ranjang kita sewaktu mataMu terbuka, kumohon Engkau tahu, mungkin aku sedang mengumpulkan embun untuk temanku nanti malam.

Kamis, 04 Februari 2010

Jumat Pertama 5-2-2010

Entah mengapa, setiap kali datang ke rumahMu, air mata ku menetes bagai bulir gandum di musim semi. Kidung agungMu yang dinyanyikan paduan suara makin menggigilkan jiwa dan rohku dan menyadarkanku bahwa aku hanyalah manusia yang tak terbilang di tengah hamparan manusia dunia ini. Jumat pertama ini sungguh menyadarkanku tentang kerendahan hati, kejujuran, kemurnian, dan komitmen yang harus dijaga dalam namaNya. 'Terdapat korelasi antara kejujuran dan kerendahan hatian juga dengan kebenaran' kata PAstur Agung Prasetyo Cahyono, OCarm menandaskan kepada hatiku. Aku pun menangis, terhanyut akan peristiwa hidup yang aku alami selama ini. Tuhan, aku hanyalah manusia yang berdosa ... pantaskah aku menghadapMu? Sebagai apakah aku selama ini? MuridMu yang selalu menjunjung kebenaran ataukah sebagai sebaliknya?
Saat misa mau berakhir, aku dengar kidung... 'Aku dengar bisikan suaraMu ... menggema lembut di dalam hatiku ... sungguh engkau sahabatku jikalau engkau menaati perintahKu ...' terus .. 'Bukanlah engkau yang memilih Aku melainkan Akulah yang memilihmu ..'
Ah Tuhan, bergemalah sabdaMu dalam hatiku, terima kasih walau aku hanyalah orang berdosa ... ternyata Engkaulah yang memilihku ....
Aku keluar pintu gereja Salvatore ini dengan hati yang bersyukur. Berjanji dalam hati, berusaha menjadi benar apapun yang terjadi.

Rabu, 03 Februari 2010

Di Suatu Malam

Aku duduk terdiam di tepi ranjang tadi malam. Merenung tentang secuil perjalanan hari ini. Tentang suka maupun duka. Yah, hidup ini bagai 'cakramanggilingan' kata kakekku. Kadang kita di atas, dan kadang kita di bawah. Dan itu memerlukan ketegaran di saat jatuh, dan tetap eling sewaktu di atas. Fenomena ini terus terang percikan kesadaranku tentang sekelumit hidup yang maha luas ini. Menjadikan bekal untuk lebih memahami dan mengartikan setiap peristiwa.
Aku lihat rintik hujan di celah korden yang tersingkap. Ada pedagang malam yang masih saja jajakan dagangannya. Aku pun tersenyum, kekuatan dan harapannya membuat diriku seperti diolok2 karena kadang kurang bersyukur.
Aku tutup korden itu, aku matikan lampu kamar yang setia menemaniku dalam terangnya. Lalu kubuat tanda kemenangan Sang Gembala, dan kuhunjukkan segala doa dan permohonanku agar dalam perjalanan hidup ini selalu kutemukan diriNya.
Menjelang kantuk yang sangat,sayup2 tembang Ibu Kehidupan mengantarkanku berselimut dalam kenyenyakan, walau sendiri tapi aku merasa ada malaikat kecilku terus berdoa di samping ranjangku.