Saat nyenyak dalam dinginnya pagi, alarm di hp membangunkan aku dengan suara yang tak asing lagi. 'Sudah pukul 04:30'batinku. Kuhidupkan lampu di kamarku, sayup2 saudaraku sedang berdoa di masjid ujung jalan itu. Doa itu mengingatkanku untuk membuat tanda salib, dan kuhaturkan terima kasih pada Sang Khalik atas penyelenggaraanNya Yang Maha Baik sehingga aku bisa bangun dalam keadaan yang sehat. Kubuka pintu kamar, dan kuhirup bau tanah sisa hujan tadi malam. Lalu dengan bergegas, aku pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuh titipanNya ini.
Jam 6:00 tepat, dentang lonceng gereja mengajakku untuk melangkahkan kaki dan batin ini. Ada kerinduan yang sangat saat air suci itu meresap dalam dahi, dada, dan kedua bahuku. 'Tuhan, aku datang dengan segala dosa dan pertobatanku,'batinku.
'Abu sebagai lambang bagi manusia akan kerapuhannya, semula yang berasal dari debu akan kembali menjadi debu. Dari kerapuhannya itu, kita dicintai, dan diselamatkan dari dosa, sehingga kita menjadi lebih berarti dan kudus. Koyakanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbuatlah yang baik dan benar dan cukup yang melihat adalah Bapamu di tempat tersembunyi. Marilah dalam masa prapaskah ini, menjadikan kita lebih mendengarkan Dia, menyerahkan segala hidup ini terhadap kehendakNya,'kata pastur dalam kotbahnya.
Setelah 1 1/4 jam, misa berakhir. Dlam perjalanan pulang, terbersit pikiran, ternyata hidupku hanyalah karena cintaMu semata, dan tanpaMu hidupku tidak ada artinya. Tuhan, semoga hidup kami menjadi semakin bersinar seperti bintang di cakrawala langit dan akhirnya luruh dalam gugusan firdausMu. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar