Saya belajar,
bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain
mencintai saya.
saya hanya dapat mencintai dengan tulus tanpa mengharapkan
balasan apapun.....
Saya belajar,
bahwa butuh waktu bertahun-tahun
untuk membangun kepercayaan dan hanya
beberapa detik saja untuk menghancurkannya....
Saya belajar,
bahwa sahabat terbaik bersama saya
dapat melakukan banyak hal dan kami selalu memiliki waktu terbaik...
Saya belajar,
bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat,
justru adalah orang yang membangkitkan
semangat hidup saya kembali serta
orang yang begitu perhatian pada saya...
Saya belajar,
bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh
walau dipisahkan oleh jarak yang jauh,
Beberapa di antaranya melahirkan cinta sejati....
Saya belajar,
bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan,
bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya....
saya hanya belajar untuk tidak egois dan mengerti akan dirinya
Saya belajar,
bahwa sebaik-baiknya pasangan itu,
mereka pasti pernah melukai perasaan saya....
dan untuk itu saya harus memaafkannya...
Saya belajar,
bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri dan orang lain...
kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus-menerus...
Saya belajar,
bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya,
tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan..
Saya belajar
bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda,
tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda...
Saya belajar,
bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki
tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya...
Saya belajar,
bahwa tidak ada yang instant atau serba cepat di dunia ini,
semua butuh proses dan pertumbuhan,
kecuali saya ingin sakit hati...
Saya belajar
bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi
atau sikap dan emosi itu yang
menguasai diri saya...
Saya belajar,
bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan berarti
saya harus benci dan berlaku bengis....
Saya belajar,
bahwa kata-kata manis tanpa tindakan adalah saat
perpisahan dengan orang yang saya cintai...
Saya belajar,
bahwa orang-orang yang saya kasihi justru sering
diambil segera dari kehidupan saya...
saya belajar,
bahwa saya harus belajar dari kesalahan yang
pernah saya lakukan dan hidup untuk masa depan,
bukan terus-menerus melihat ke masa lampau..
saya belajar,
bahwa cinta itu memberi dan mengerti tanpa harus
diberi dan dimengerti..
saya belajar,
bahwa apa yang kita inginkan tidak selalu sesuai
dengan apa yang kita butuhkan, dan kita harus
berlapang dada menerimanya..
saya belajar,
bahwa keluarga saya adalah harta terbesar yang
saya punya..
saya belajar,
bahwa dengan berterima kasih pada Yang Maha Kuasa,
maka Ia akan memberi rahmat lebih banyak lagi..
saya belajar,
bahwa saya harus tidak boleh berhenti belajar..
salam sejahtera
( diambil dari berbagai sumber )
Rabu, 29 Desember 2010
Senin, 29 November 2010
Untuk Pi dan Ta
Gendhukku berdua, lewat goresan tinta di pojok catatan ini, papa akan mengajakmu bercerita. Papa ingin suatu saat nanti engkau membaca. Saat itu, papa hadir dan menjadikan 'sangu' dalam hidup ini. Ndhuk, suatu masa, di seberang waktu, papa menggenggam rosari merah yang dulu disenangi mbakmu Pi, dan Ta saat itu masih kecil, yang suka garuk2 rambut yang mulai tumbuh. Setiap papa langkahkan kaki, papa ingat mata Pi, dan senyum Ta. Matamu dan senyummu selalu tegakkan pa saat pa mengais rejeki di ibu kota Jakarta. Kadang capek, kadang berontak melawan nasib, tapi yang membuat semuanya berjalan adalah doa kalian berdua. Setiap senja, papa melihat matahari dan bayangkan mata dan senyummu, hingga rasa kangen yang membatu ini mencair dalam butir-butir rosari merah.
Ndhuk, apa yang pa lakukan hanya untukmu, agar menjadikan masa depanmu lebih berarti dan bermakna bagi semua ciptaanNya.
Jika malam mulai enggan membuka matanya, saat itu sederet doa dan harapan untuk bersama selalu pa kidungkan dalam hati ini yang terdalam. Pa sangat sayang Pi dan Ta, putri kecilku yang cantik dan ayu.
Ndhuk, apa yang pa lakukan hanya untukmu, agar menjadikan masa depanmu lebih berarti dan bermakna bagi semua ciptaanNya.
Jika malam mulai enggan membuka matanya, saat itu sederet doa dan harapan untuk bersama selalu pa kidungkan dalam hati ini yang terdalam. Pa sangat sayang Pi dan Ta, putri kecilku yang cantik dan ayu.
Selasa, 02 November 2010
Selalu Tersenyum
Dlam hidup,selalu saja ada jalan terjal. Kadang aku pun bisanya hanya menyalahkan.. dan jarang tuk instropeksi. Marah, kecewa, dan jengkel kadang menimbun segala kebaikan2 yang sebenarnya selalu ada untukku.
Suatu hari, di suatu pagi yang cerah, aku gendong putri kedua ku, Dikta. Aku lihat dia, ahh .. Ndhuk, engkau selalu tersenyum. Selalu melihat mataku. Seakan engkau ingin mengatakan,"Pa, Dikta selalu tersenyum apapun itu." Kupandangi wajahmu, kulihat senyummu lagi, sungguh lewat senyummu aku sungguh belajar dalam hidup ini. Apapun yang terjadi Tuhan, buatlah aku untuk tetap tersenyum meskipun kadang pahit kurasakan. Dikta, terima kasih ya sayang Papa kan berusaha untuk selalu tersenyum. Itu pasti
Suatu hari, di suatu pagi yang cerah, aku gendong putri kedua ku, Dikta. Aku lihat dia, ahh .. Ndhuk, engkau selalu tersenyum. Selalu melihat mataku. Seakan engkau ingin mengatakan,"Pa, Dikta selalu tersenyum apapun itu." Kupandangi wajahmu, kulihat senyummu lagi, sungguh lewat senyummu aku sungguh belajar dalam hidup ini. Apapun yang terjadi Tuhan, buatlah aku untuk tetap tersenyum meskipun kadang pahit kurasakan. Dikta, terima kasih ya sayang Papa kan berusaha untuk selalu tersenyum. Itu pasti
"Semua Bunga Ikut Bernyanyi"
Tadi pagi, mentari sangat cerah dan lembut menyapa hatiku. Saat kuberbelok di gerbang tadi, sayup2 aku mendengar lagu "Semua Bunga Ikut Bernyanyi". Lagu gereja yang sewaktu ku kecil, aku suka tyk mendendangkannya. Aku ingat ayahku bernyanyi, dan ibuku dengan suara merdunya juga nimbrung ikut menyanyi... ah sangat mengesankan, dan terbang anganku akan beliau.
Ternyata tidak hanya beliau, aku jadi ingat Pi kecilku. Sepulang dari TK Theresia, dia bilang,"Pa, Pi tadi diajalin menali sama bu gulu." Aku pun tersenyum karena anakku masih 'celat'. Aku pandangi mata yang tajam itu...emm. mirip mataku ... dan kupegang pipinya sambil kuberkat,"Pa mau lihat sayang...."
Pi ku langsung turung dari pangkuanku, dan dia mengedahkan kepalanya sambil mengingat2 .. lalu dia mulai menyanyi .."Semua bunga ikut belnyanyi .. gembila hatiku ... segala lumput pun liang-liang .. Tuhan sumbel gembilakuu ..." sambil menyanyi dia menari .. emm .. aku terkesan ... tarian anakku yang jenaka .. sambil bernyanyi memuji Tuhan sangat menyodokku .. ahhh .. aku kadang kehilangan tarian dan nyanyian surga .... Tuhan maafkan aku. Tak terasa, dalam diam.. Pi kecilku sudah di depanku .. sambil manatap mataku .. dia bilang,"Pa, Papa melamun ya? Pa lihat talian Pi tidak?" Aku tatap mata anakku, kujulurkan tangan dan kugendong Pi kecil. Ya, aku belajar darimu Ndhuk ... tetap tersenyum dan gembira walau apa yang terjadi di hidup ini. GBU Ndhuk ...
Ternyata tidak hanya beliau, aku jadi ingat Pi kecilku. Sepulang dari TK Theresia, dia bilang,"Pa, Pi tadi diajalin menali sama bu gulu." Aku pun tersenyum karena anakku masih 'celat'. Aku pandangi mata yang tajam itu...emm. mirip mataku ... dan kupegang pipinya sambil kuberkat,"Pa mau lihat sayang...."
Pi ku langsung turung dari pangkuanku, dan dia mengedahkan kepalanya sambil mengingat2 .. lalu dia mulai menyanyi .."Semua bunga ikut belnyanyi .. gembila hatiku ... segala lumput pun liang-liang .. Tuhan sumbel gembilakuu ..." sambil menyanyi dia menari .. emm .. aku terkesan ... tarian anakku yang jenaka .. sambil bernyanyi memuji Tuhan sangat menyodokku .. ahhh .. aku kadang kehilangan tarian dan nyanyian surga .... Tuhan maafkan aku. Tak terasa, dalam diam.. Pi kecilku sudah di depanku .. sambil manatap mataku .. dia bilang,"Pa, Papa melamun ya? Pa lihat talian Pi tidak?" Aku tatap mata anakku, kujulurkan tangan dan kugendong Pi kecil. Ya, aku belajar darimu Ndhuk ... tetap tersenyum dan gembira walau apa yang terjadi di hidup ini. GBU Ndhuk ...
Rabu, 13 Oktober 2010
Batas
Suatu malam di sudut kamar, ku tak bisa pejamkan mata ini. Semua begitu gelisahkan hatiku. Ku ingat tadi sore, saat mentari terbenam diiringi gerimis hujan dan angin yang diam2 telusupi kulitku yang menggigil. Sebuah perbincangan dengan Mas Ipar mengenai kecelakaan kereta api di Petarukan Pemalang. Sekali kulihat ada rasa syukur ternyata dia masih diberi kesempatan untuk menikmati anugerahNya dan semua kebaikan2Nya. Sungguh mukjijat,kata batinku, sebuah pengalaman yang mengantarkan tentang arti hidup dan mati. Dan dia mengatakan, ternyata batas antara hidup dan mati itu tipis sekali, atau bisa dikatakan bagai dua sisi yang menempel seperti uang logam, pasti ada dan pasti kita akan mengalami kedua sisi itu.
Aku peluk guling ini, sambil merenung tentang kematian. Suatu waktu pasti kita akan masuk ke pintu itu. Pintu yang mungkin gelap atau terang, aku tidak tahu. Aku hembuskan nafas panjang, aku nikmati udara yang masuk dan keluar dari hidungku, ku gerakkan semua anggota tubuhku, semua baik2 saja. Ah, Tuhan, terima kasih atas semuanya.
Tak terasa, mata ini meneteskan air mata penuh syukur,ternyata aku dicintaiNya sehingga aku boleh menikmati semua anugerahNya, semua ciptaanNya.
Tuhan, maafkan aku selama ini penuh dosa dan kesalahan. Tuhan, aku ingin menangis di pangkuanMu nantinya.
Ku bangun, kubuka gorden jendelaku, kubuka jendela, dan angin penuh lembut menerpa wajahku dan lembut memelukku. Ku pejamkan mata, kubuat tanda kemenangan Anak Gembala, dan aku hanyut dalam doa. Aku dengar seakan ada Engkau disampingku berbicara dengan bahasa yang belum kumengerti, yang kupercaya suatu saat nanti aku mengerti bahasaMu.
Aku peluk guling ini, sambil merenung tentang kematian. Suatu waktu pasti kita akan masuk ke pintu itu. Pintu yang mungkin gelap atau terang, aku tidak tahu. Aku hembuskan nafas panjang, aku nikmati udara yang masuk dan keluar dari hidungku, ku gerakkan semua anggota tubuhku, semua baik2 saja. Ah, Tuhan, terima kasih atas semuanya.
Tak terasa, mata ini meneteskan air mata penuh syukur,ternyata aku dicintaiNya sehingga aku boleh menikmati semua anugerahNya, semua ciptaanNya.
Tuhan, maafkan aku selama ini penuh dosa dan kesalahan. Tuhan, aku ingin menangis di pangkuanMu nantinya.
Ku bangun, kubuka gorden jendelaku, kubuka jendela, dan angin penuh lembut menerpa wajahku dan lembut memelukku. Ku pejamkan mata, kubuat tanda kemenangan Anak Gembala, dan aku hanyut dalam doa. Aku dengar seakan ada Engkau disampingku berbicara dengan bahasa yang belum kumengerti, yang kupercaya suatu saat nanti aku mengerti bahasaMu.
Senin, 20 September 2010
Di Simpang Jalan Karya 1
Kadang terbersit untuk merenung tentang takdir. Ya, sebuah kata chemistry yang membuat orang pro dan kontra. Mengapa? Ya, kalau boleh melihat diriku yang gak begitu2 bodoh, gak begitu2 neko2, yang selalu mengedepankan loyalitas, kejujuran. Tapi mengapa jalan hidup ini tetap saja berlubang dan kadang membuatku terjatuh? Banyak orang yang seperti mengolok2ku tentang prinsip hidupku. Dan itu kadang membuat terluka dan kecewa. Ya, 'takdir' begitu kata yang terucap di hatiku. Mengapa yang lain berjalan mulus2 saja? Tidak ada hambatan sama sekali? Sucikah mereka? Hingga semesta hidup ini membantunya?
Ah, lelah juga memikirkannya. Kubuang jauh2 rasa iri ini, sambil tersenyum dan melangkah ku berjanji. Jika tanah yang ku garap tidak tumbuh tanaman yang subur dan hijau, ku kan pergi ke lahan yang baru, yang lebih menjanjikan, mungkin.
Ah, lelah juga memikirkannya. Kubuang jauh2 rasa iri ini, sambil tersenyum dan melangkah ku berjanji. Jika tanah yang ku garap tidak tumbuh tanaman yang subur dan hijau, ku kan pergi ke lahan yang baru, yang lebih menjanjikan, mungkin.
Selasa, 06 Juli 2010
RENUNGAN “SANG WAKTU”
Matahari bertanya pada sang pagi,” Apakah yang akan kau lakukan wahai Pagi?”
Sang pagi menjawab dengan santun diiringi suara kecapi pagi
,”Wahai matahari, akan kusapa daun-daun dan tetesan embun mahkotanya. Akan kuberikan segala waktuku untuk memberi alam ini agar tersenyum dan mengidungkan nyanyian kehidupan.
Kan kuberikan juga cahaya semangat pada kehidupan agar semakin mengartikan begitu indah waktu dan kesempatan tuk hidup ini.”
Matahari tersenyum atas jawaban Sang Pagi.
Dan lihatlah!
Alam kehidupan selalu menyambut pagi dan selalu mengucap syukur pada Sang Khalik bahwa hidup ini tak sia-sia untuk diberi arti dan makna.
Sang Waktupun memanggil matahari yang berubah menjadi Sang Bulan.
Sang Pagipun berubah menjadi Sang Malam.
Lalu kata Bulan pada Sang Malam
,” Wahai sahabatku, apakah yang kaupetik dari semua ini?”
Sang Malampun menjawab dengan santun diiringi suara kecapi malam
,”Wahai Sahabatku Bulan, aku semakin mengerti bahwa hidup adalah pengembaraan yang diiringi karya dan tugas. Jadi tugas dan karya adalah sebuah pengabdian yang mengakar dan menjiwai hidup ini. Bahwa segalanya akan berbuah dan buah itu harus berguna bagi sesama dan kehidupan.”
Sang Bulan yang bijakpun kembali tersenyum sama indah dengan senyum saat menjadi Matahari.
Ternyata bahwa hidup harus diisi dengan karya dan pengabdian yang tulus bagi sesama dan kebesaran Sang Pencipta.
Sang pagi menjawab dengan santun diiringi suara kecapi pagi
,”Wahai matahari, akan kusapa daun-daun dan tetesan embun mahkotanya. Akan kuberikan segala waktuku untuk memberi alam ini agar tersenyum dan mengidungkan nyanyian kehidupan.
Kan kuberikan juga cahaya semangat pada kehidupan agar semakin mengartikan begitu indah waktu dan kesempatan tuk hidup ini.”
Matahari tersenyum atas jawaban Sang Pagi.
Dan lihatlah!
Alam kehidupan selalu menyambut pagi dan selalu mengucap syukur pada Sang Khalik bahwa hidup ini tak sia-sia untuk diberi arti dan makna.
Sang Waktupun memanggil matahari yang berubah menjadi Sang Bulan.
Sang Pagipun berubah menjadi Sang Malam.
Lalu kata Bulan pada Sang Malam
,” Wahai sahabatku, apakah yang kaupetik dari semua ini?”
Sang Malampun menjawab dengan santun diiringi suara kecapi malam
,”Wahai Sahabatku Bulan, aku semakin mengerti bahwa hidup adalah pengembaraan yang diiringi karya dan tugas. Jadi tugas dan karya adalah sebuah pengabdian yang mengakar dan menjiwai hidup ini. Bahwa segalanya akan berbuah dan buah itu harus berguna bagi sesama dan kehidupan.”
Sang Bulan yang bijakpun kembali tersenyum sama indah dengan senyum saat menjadi Matahari.
Ternyata bahwa hidup harus diisi dengan karya dan pengabdian yang tulus bagi sesama dan kebesaran Sang Pencipta.
Senin, 19 April 2010
Lelah
Sudah jauh perjalananku. Suara kecapi yang timbul tenggelam kadang kaburkan anganku pada cita2 dan harapanku. Adakah air jatuh di gemericik air kan terbawa dalam sumber yang tak terbatas? Ataukah semua adalah sia2 tanpa makna yang tertulis di hamparan pasir? Hidup memang misteri. Hidup bawa kenangan2 yang tergores dalam tangis sesal. Tuhan, walau langkah kaki makin cepat dan terburu2 aku tetap menunggumu di gapura itu. Biar dingin dan panas datang menerjang. Biar masalah2 hidup buat menderukan degup jantung dan pikiranku,ku kan tetap bawa rosari mawar di pintuMu.
Tahukah Kau? Gerimis musim lalu robek silsilah moyangku. Berkendara dalam buaian masa lalu? Tuhan, ku ingin Kau tahu semua hatiku. Akhirnya hanya aku dan Engkau saja di meja perjamuan ini.
Tahukah Kau? Gerimis musim lalu robek silsilah moyangku. Berkendara dalam buaian masa lalu? Tuhan, ku ingin Kau tahu semua hatiku. Akhirnya hanya aku dan Engkau saja di meja perjamuan ini.
Kamis, 15 April 2010
Lagi
Lagi, darah itu mulai mengalir. Air matamu genangi tanah gersang di sudut hati ini. Jika diam itu adalah jawaban, janganlah engkau paksa aku tuk sibakkan kegalauan setiap senja. Jadi, tolonglah, Tuhan tidak pernah menghakimi kalau benar2 kita ini pantas dihakimi. Dialah Sang Maha Hakim, dengan apakah engkau akan menuntutku agar menjadi lebih baik dari duri? Lagi, darah mulai mengalir lagi. Kita harus sudahi atau darah segar nan baru akan mengalir di pematang hidup nantinya.
Senin, 05 April 2010
Di Ujung
Ranting yang patah saat angin menderu koyakan dahan di ujung pohon kehidupan. Sangat terluka dan membiru dalam kekekalan penyesalan. Nestapa yang hilir mudik bagai buritan yang tak pasti tentang tujuan. Sesuatu yang selalu tengadahkan untuk berdoa di tepi ranjang. Berikrar dalam kenisbian yang selalu bergoyang ditiup sangkakala. Duh Gusti, kodrat yang kekal semoga kekal. Tak ada tangis dan tak ada luka. biar darah terus mengalir di lambung dan tangisMu, kumohon basuhlah segala kesesakan yang seakan terjerembab dalam lubang yang sama. Dalam hening, senantiasa kuberharap, agar semua kan terbang di pelangiMu. Melihat hasil rendaan kehidupan yang kadang naik dan turun dengan corak warna yang memperkaya.
Selasa, 30 Maret 2010
Saat Senja
Tuhan, aku ingin menangis. Aku ingin memelukMu. Dalam jubahMu yang bersinar, ingin aku Engkau tuntun tuk pulang ke rumahMu. Tuhan, aku sangat mencintaiMu. Takkan kutinggalkan walau sedetik saja. Kuingin dalam diriMu aku beristirahat di sana. Amin
Rabu, 24 Maret 2010
UntukMu
Telah jauh jejak kaki ini melangkah. Bertemu dengan peristiwa2 yang kadang membuat suka dan duka, namun kedua kondisi paradoks tersebut memberikan pelangi yang selalu tersungging di balik bukitMu. Ah, Engkau selalu mengumandangkan kidung yang selalu tersirat di balik jubahMu. Menggema akan tasbih yang tergenggam dalam ketidakpastian hidup ini. Di ransel yang selalu temani pengembaraan ini Tuhan, aku membawa oleh2 untukMu. Oleh2 yang lukis semua peristiwa hidupku. Sebuah episode atau elegi pagi dan senja. Sebuah kepingan yang akan kusatukan dalam rencanaMu nantinya. Saat kulihat jejak kaki yang tertinggal di belokan jalan itu, selalu teucap kata," Tuhan, semua yang ada dalam diriku hanyalah titipanMu semata." Amin
Senin, 08 Maret 2010
Suatu Saat
Apakah hujan musim ini sebabkan mendung di hatimu sayang. Tiadakah angin yang lembut nan mesra membawakan suka cita? Ataukah angin membuatmu merasa gigil akan rindu akan cita2 yang kita jelang? Esok pasti datang, dan suara surga akan kita nyanyikan bersama, ya bersama dalam keriangan pagi dan doa di penghujung senja. Kuingin langkahkan kaki ini di setiap jalan yang kita jelang. BErgandengan tangan dalam dekap dan pelukan yang tak terucap. Sebuah keabadian dalam cinta dan rindu yang kekal dalam semua musim. Meraja dalam renungan hati yang terdalam. Ah, kau tersenyum penuh arti. Hanya kanda yang tahu setiap arti senyum, tawa, dan tangismu. Reguk semua hidup ini sayang agar terpuaskan segala isi dunia dan surga. Bejana itu akan kita bawa, di depanNya dan tak terpisahkan.
Minggu, 07 Maret 2010
Apakah Kau Akan MenamparKu?
Saat senja beranjak malam, gerbong kereta Jogja - Jakarta penuh sesak. Berjejalan antara penumpang dan penjual. Akupun dengan tubuh yang basah dengan keringat, mencoba tuk usir panas yang cipta setiap setiap kegelisahan. Saat kulihat kehidupan di balik jendela dekat tempat dudukku, terdengar seseorang Bapak marah dan saat itu juga suara tamparan sangat keras kudengar. Aku tertegun melihat yang terjadi. 'PAk, jangan main tampar gitu dong, kalau Bapak tidak mau asap rokok ya sana ke gerbong kereta eksekutif, dan kalau Bapak main kasar, saya juga bisa, ayo turun di sini kita tuntaskan perkelahian ini' kata seorang anak muda di depan Bapak yang nampar tadi. 'Ayo,'jawab Bapak itu tidak mau kalah. Lalu banyak orang melerai dua orang tadi. Kejadian itu memberi sebuah penggalan cerita saat Anak Manusia ditampar seorang serdadu. Tapi bukan tamparan karena saling mempertahankan ego manusia. Tamparan yang membalikkan keadaan. Keadaan yang benar menjadi salah, keadaan yang salah menjadi benar hanya demi kepentingan sesaat, sesuatu yang tidak langgeng. 'Jika engkau ditampar pipimu, berikanlah pipimu yang lain'. Sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan oleh akal manusia. Karena akal manusia sulit walau bisa menjangkau tetapi tergantung akan kedewasaan spiritualnya. Apakah kita juga ikut menamparNya? Ya kita juga ikut menamparNya saat kita berbuat yang tidak pantas. Jika kita diam saat ada saudara yang membutuhkan pertolongan, kita diam saat ketidakadilan meraja dalam sistem pemerintahan, kita diam di saat nasib rakyat kecil diinjak2 hanya segelintir penguasa. Banyak sekali kejadian yang menyadarkan kita.
Kisah dalam gerbong ini membuatku sadar, bahwa hidup harus berbagi, dan tetap menjadikannya sebuah perjalanan yang mesra dengan sesama. Dalam deru gerbong ini, kulihat Engkau menyembulkan wajahMu yang berewok namun lembut, terlihat dengan jelas bekas tamparan yang terlukis di pipiMu. Namun saat aku akan temui Engkau dengan cepat, Engkau membalikkan tubuhMu dan terdengar sebuah tanyaMu,'Apakah engkau akan ikut menamparKu sahabat?' Aku pun terduduk dengan jawaban yang sulit terucap. 'Ah Tuhan, jika aku ikut menamparMu saat lalu, aku berjanji tak menamparMu bahkan saudaraku'.
Kisah dalam gerbong ini membuatku sadar, bahwa hidup harus berbagi, dan tetap menjadikannya sebuah perjalanan yang mesra dengan sesama. Dalam deru gerbong ini, kulihat Engkau menyembulkan wajahMu yang berewok namun lembut, terlihat dengan jelas bekas tamparan yang terlukis di pipiMu. Namun saat aku akan temui Engkau dengan cepat, Engkau membalikkan tubuhMu dan terdengar sebuah tanyaMu,'Apakah engkau akan ikut menamparKu sahabat?' Aku pun terduduk dengan jawaban yang sulit terucap. 'Ah Tuhan, jika aku ikut menamparMu saat lalu, aku berjanji tak menamparMu bahkan saudaraku'.
Tuhan, Kupersembahkan Hidupku UntukMu
Tuhan, kupersembahkan hidupku untukMu
Semua yang kujalani, kupakai demi kemuliaanMu,
Tuhan, kupersembahkan hari-hariku untukMu,
Kuangkat pujian bagiMu sebagai pengorbanan yang membahagiakan,
Tuhan, kupersembahakan hidupku
Seluruh apa adanya diriku,semua yang kumiliki
kupersembahkan bagiMu Tuhan
Seluruh kebangganku, seluruh kegembiraanku, dan juga
dukaku semua demi namaMu.
( Diambil dari Pukat Kasih - PK3S )
Semua yang kujalani, kupakai demi kemuliaanMu,
Tuhan, kupersembahkan hari-hariku untukMu,
Kuangkat pujian bagiMu sebagai pengorbanan yang membahagiakan,
Tuhan, kupersembahakan hidupku
Seluruh apa adanya diriku,semua yang kumiliki
kupersembahkan bagiMu Tuhan
Seluruh kebangganku, seluruh kegembiraanku, dan juga
dukaku semua demi namaMu.
( Diambil dari Pukat Kasih - PK3S )
Selasa, 16 Februari 2010
Rabu Abu 2010
Saat nyenyak dalam dinginnya pagi, alarm di hp membangunkan aku dengan suara yang tak asing lagi. 'Sudah pukul 04:30'batinku. Kuhidupkan lampu di kamarku, sayup2 saudaraku sedang berdoa di masjid ujung jalan itu. Doa itu mengingatkanku untuk membuat tanda salib, dan kuhaturkan terima kasih pada Sang Khalik atas penyelenggaraanNya Yang Maha Baik sehingga aku bisa bangun dalam keadaan yang sehat. Kubuka pintu kamar, dan kuhirup bau tanah sisa hujan tadi malam. Lalu dengan bergegas, aku pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuh titipanNya ini.
Jam 6:00 tepat, dentang lonceng gereja mengajakku untuk melangkahkan kaki dan batin ini. Ada kerinduan yang sangat saat air suci itu meresap dalam dahi, dada, dan kedua bahuku. 'Tuhan, aku datang dengan segala dosa dan pertobatanku,'batinku.
'Abu sebagai lambang bagi manusia akan kerapuhannya, semula yang berasal dari debu akan kembali menjadi debu. Dari kerapuhannya itu, kita dicintai, dan diselamatkan dari dosa, sehingga kita menjadi lebih berarti dan kudus. Koyakanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbuatlah yang baik dan benar dan cukup yang melihat adalah Bapamu di tempat tersembunyi. Marilah dalam masa prapaskah ini, menjadikan kita lebih mendengarkan Dia, menyerahkan segala hidup ini terhadap kehendakNya,'kata pastur dalam kotbahnya.
Setelah 1 1/4 jam, misa berakhir. Dlam perjalanan pulang, terbersit pikiran, ternyata hidupku hanyalah karena cintaMu semata, dan tanpaMu hidupku tidak ada artinya. Tuhan, semoga hidup kami menjadi semakin bersinar seperti bintang di cakrawala langit dan akhirnya luruh dalam gugusan firdausMu. Amin
Jam 6:00 tepat, dentang lonceng gereja mengajakku untuk melangkahkan kaki dan batin ini. Ada kerinduan yang sangat saat air suci itu meresap dalam dahi, dada, dan kedua bahuku. 'Tuhan, aku datang dengan segala dosa dan pertobatanku,'batinku.
'Abu sebagai lambang bagi manusia akan kerapuhannya, semula yang berasal dari debu akan kembali menjadi debu. Dari kerapuhannya itu, kita dicintai, dan diselamatkan dari dosa, sehingga kita menjadi lebih berarti dan kudus. Koyakanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbuatlah yang baik dan benar dan cukup yang melihat adalah Bapamu di tempat tersembunyi. Marilah dalam masa prapaskah ini, menjadikan kita lebih mendengarkan Dia, menyerahkan segala hidup ini terhadap kehendakNya,'kata pastur dalam kotbahnya.
Setelah 1 1/4 jam, misa berakhir. Dlam perjalanan pulang, terbersit pikiran, ternyata hidupku hanyalah karena cintaMu semata, dan tanpaMu hidupku tidak ada artinya. Tuhan, semoga hidup kami menjadi semakin bersinar seperti bintang di cakrawala langit dan akhirnya luruh dalam gugusan firdausMu. Amin
Selasa, 09 Februari 2010
Embun
Adakah yang tahu bahwa pagi2 sekali aku terbangun ingin mengumpulkan embun di atas daun. Ah, tak ada yang tahu mungkin hanya Engkau sayang. Sampai detik ini, aku suka sekali embun. Pertemuanku dengannya dimulai saat aku menangis karena rasa sedih yang sangat. Sedih pada hidup yang koyakan jati diriku. Membuat sakit orang2 yang ku kasihi. Menjadikan oase yang kadang timbul dan lenyap di depan langkahku. 'Kamu telah berubah saat engkau menjadi matahari,'kata suara saat aku membuka jendela sewaktu pagi. Aku mencari asal suara itu, dan sebuah butir embun menetes di keningku. Ada rasa yang tak pernah kurasakan. Embun itu merembes dan bersatu dengan sisa tangisku tadi malam. Ada perbincangan antara air mataku dan embun. Lamat-lamat aku mendengar mereka berdua. 'Sobat,telah lama aku mencarimu. Di saat senja aku mencari pada ranting pohon. Bahkan sewaktu pagi aku selalu menunggumu di atas daunnya, dan ternyata engkau di sini terpenjara dalam tubuh manusia'. Jawab air mataku,'Iya sobat, aku kerasan di sini, aku ingin menghibur hati manusia yang sedang dirundung kesedihan, tahukah sobatku embun? saat manusia sedih, jiwanya menggigil, sarafnya mengejang, dan jantungnya berdegup kencang? itu juga terjadi saat manusia sedang dalam kebahagiaan. Aku ingin berbagi dengan mereka, membasuh jiwanya agar menjadi manusia yang selalu sadar akan hidup ini.' Embun itu mengangguk2 dan lirih berkata,'Sobat, sangat berartinya hidupmu, alangkah sucinya misi hidupmu.' Air mata ku pun menepuk pundak embun dan berkata,'jadilah yang terbaik saat engkau di mana saja Sobat.' Lalu aku lihat mereka berpelukan, lalu aku tak bisa membedakan mana embun dan mana air mataku. Semuanya sama, hanya peran mereka di dunia ini yang berbeda. Itulah mengapa, diam2 aku ingin mengumpulkan embun setiap pagi. Mencari di setiap lekuk daun, di mananapun. Jadi Sayang, jika Engkau terjaga dan tidak melihatku di ranjang kita sewaktu mataMu terbuka, kumohon Engkau tahu, mungkin aku sedang mengumpulkan embun untuk temanku nanti malam.
Kamis, 04 Februari 2010
Jumat Pertama 5-2-2010
Entah mengapa, setiap kali datang ke rumahMu, air mata ku menetes bagai bulir gandum di musim semi. Kidung agungMu yang dinyanyikan paduan suara makin menggigilkan jiwa dan rohku dan menyadarkanku bahwa aku hanyalah manusia yang tak terbilang di tengah hamparan manusia dunia ini. Jumat pertama ini sungguh menyadarkanku tentang kerendahan hati, kejujuran, kemurnian, dan komitmen yang harus dijaga dalam namaNya. 'Terdapat korelasi antara kejujuran dan kerendahan hatian juga dengan kebenaran' kata PAstur Agung Prasetyo Cahyono, OCarm menandaskan kepada hatiku. Aku pun menangis, terhanyut akan peristiwa hidup yang aku alami selama ini. Tuhan, aku hanyalah manusia yang berdosa ... pantaskah aku menghadapMu? Sebagai apakah aku selama ini? MuridMu yang selalu menjunjung kebenaran ataukah sebagai sebaliknya?
Saat misa mau berakhir, aku dengar kidung... 'Aku dengar bisikan suaraMu ... menggema lembut di dalam hatiku ... sungguh engkau sahabatku jikalau engkau menaati perintahKu ...' terus .. 'Bukanlah engkau yang memilih Aku melainkan Akulah yang memilihmu ..'
Ah Tuhan, bergemalah sabdaMu dalam hatiku, terima kasih walau aku hanyalah orang berdosa ... ternyata Engkaulah yang memilihku ....
Aku keluar pintu gereja Salvatore ini dengan hati yang bersyukur. Berjanji dalam hati, berusaha menjadi benar apapun yang terjadi.
Saat misa mau berakhir, aku dengar kidung... 'Aku dengar bisikan suaraMu ... menggema lembut di dalam hatiku ... sungguh engkau sahabatku jikalau engkau menaati perintahKu ...' terus .. 'Bukanlah engkau yang memilih Aku melainkan Akulah yang memilihmu ..'
Ah Tuhan, bergemalah sabdaMu dalam hatiku, terima kasih walau aku hanyalah orang berdosa ... ternyata Engkaulah yang memilihku ....
Aku keluar pintu gereja Salvatore ini dengan hati yang bersyukur. Berjanji dalam hati, berusaha menjadi benar apapun yang terjadi.
Rabu, 03 Februari 2010
Di Suatu Malam
Aku duduk terdiam di tepi ranjang tadi malam. Merenung tentang secuil perjalanan hari ini. Tentang suka maupun duka. Yah, hidup ini bagai 'cakramanggilingan' kata kakekku. Kadang kita di atas, dan kadang kita di bawah. Dan itu memerlukan ketegaran di saat jatuh, dan tetap eling sewaktu di atas. Fenomena ini terus terang percikan kesadaranku tentang sekelumit hidup yang maha luas ini. Menjadikan bekal untuk lebih memahami dan mengartikan setiap peristiwa.
Aku lihat rintik hujan di celah korden yang tersingkap. Ada pedagang malam yang masih saja jajakan dagangannya. Aku pun tersenyum, kekuatan dan harapannya membuat diriku seperti diolok2 karena kadang kurang bersyukur.
Aku tutup korden itu, aku matikan lampu kamar yang setia menemaniku dalam terangnya. Lalu kubuat tanda kemenangan Sang Gembala, dan kuhunjukkan segala doa dan permohonanku agar dalam perjalanan hidup ini selalu kutemukan diriNya.
Menjelang kantuk yang sangat,sayup2 tembang Ibu Kehidupan mengantarkanku berselimut dalam kenyenyakan, walau sendiri tapi aku merasa ada malaikat kecilku terus berdoa di samping ranjangku.
Aku lihat rintik hujan di celah korden yang tersingkap. Ada pedagang malam yang masih saja jajakan dagangannya. Aku pun tersenyum, kekuatan dan harapannya membuat diriku seperti diolok2 karena kadang kurang bersyukur.
Aku tutup korden itu, aku matikan lampu kamar yang setia menemaniku dalam terangnya. Lalu kubuat tanda kemenangan Sang Gembala, dan kuhunjukkan segala doa dan permohonanku agar dalam perjalanan hidup ini selalu kutemukan diriNya.
Menjelang kantuk yang sangat,sayup2 tembang Ibu Kehidupan mengantarkanku berselimut dalam kenyenyakan, walau sendiri tapi aku merasa ada malaikat kecilku terus berdoa di samping ranjangku.
Minggu, 31 Januari 2010
Duriku ( Buat Para Munafik Kehidupan )
Kawan, jika ada duri dalam hatimu karena kehadiranku, kuingin menjadi bunga mawar walau berduri tetapi menjadikan taman ini lebih indah. Kadang sempat terpikir untuk lukai hatimu lebih agar darahmu semakin menganga hingga duriku makin melebarkan dan bekaskan sakit hati. Ah, tetapi itu semua tidak kulakukan. Tuhan Sang Gembalaku tidak mengajarkan hal itu. Walau kemunafikan seorang manusia kadang membuat jalanku terseok dan berdarah, itu tidak akan membuat diriku hancur, malah semakin tumbuh subur dalam nuansa kehidupan ini.
Kawan, lewat goresan jejak langkah kaki ini, aku mohon, buanglah topeng kemunafikanmu. Hingga suatu saat nanti kulihat wajah aslimu. Ah, aku dengar lagi derap sepatu para munafik di seberang pikiranku. Tahukah mereka bahwa hidup ini hanyalah panggung sandiwara? Ataukah mereka memang 'didapuk' menjadi para munafik. Ha ha .. aku tertawa lepas dalam kesendirian, mungkin benar mungkin salah, tetapi itu semua tak pengaruhi hidupku.
Kawan, lewat goresan jejak langkah kaki ini, aku mohon, buanglah topeng kemunafikanmu. Hingga suatu saat nanti kulihat wajah aslimu. Ah, aku dengar lagi derap sepatu para munafik di seberang pikiranku. Tahukah mereka bahwa hidup ini hanyalah panggung sandiwara? Ataukah mereka memang 'didapuk' menjadi para munafik. Ha ha .. aku tertawa lepas dalam kesendirian, mungkin benar mungkin salah, tetapi itu semua tak pengaruhi hidupku.
Kamis, 07 Januari 2010
Selamat Jalan Gus
Membaca Kompas tadi malam mengenai tulisan Mas Sujiwo Tejo tentang Sang Legendaris Gus Dur yaitu tentang Sang Ceplas Ceplos. Penulis sangat setuju karena Mas Sujiwo berani untuk berpikir dari sisi lain. Sisi yang orang Jawa kalau bilang adalah hal yang tabu, tapi justru pandangan tersebut diperlukan dalam memaknai jaman yang serba tak pasti ini. Bicara ceplas ceplos Gus Dur adalah berani membuka kemunafikan, kebrobokan mental, dan fanatisme sempit. Saya sangat bersyukur memiliki Bapak sekaliber Gus Dur yang selalu mengayomi dan memberi kesempatan memanusiakan manusia. Semoga penerus-penerus Sang Legenda tetap akan bermunculan di bumi Nusantara ini. Selamat jalan Gus Dur ... semoga pemimpin di negara ini dapat belajar terhadap sikapmu demi tegaknya NKRI yang kokoh di bumi ini.
Langganan:
Postingan (Atom)