Kawan, jika ada duri dalam hatimu karena kehadiranku, kuingin menjadi bunga mawar walau berduri tetapi menjadikan taman ini lebih indah. Kadang sempat terpikir untuk lukai hatimu lebih agar darahmu semakin menganga hingga duriku makin melebarkan dan bekaskan sakit hati. Ah, tetapi itu semua tidak kulakukan. Tuhan Sang Gembalaku tidak mengajarkan hal itu. Walau kemunafikan seorang manusia kadang membuat jalanku terseok dan berdarah, itu tidak akan membuat diriku hancur, malah semakin tumbuh subur dalam nuansa kehidupan ini.
Kawan, lewat goresan jejak langkah kaki ini, aku mohon, buanglah topeng kemunafikanmu. Hingga suatu saat nanti kulihat wajah aslimu. Ah, aku dengar lagi derap sepatu para munafik di seberang pikiranku. Tahukah mereka bahwa hidup ini hanyalah panggung sandiwara? Ataukah mereka memang 'didapuk' menjadi para munafik. Ha ha .. aku tertawa lepas dalam kesendirian, mungkin benar mungkin salah, tetapi itu semua tak pengaruhi hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar