Selasa, 30 Maret 2010

Saat Senja

Tuhan, aku ingin menangis. Aku ingin memelukMu. Dalam jubahMu yang bersinar, ingin aku Engkau tuntun tuk pulang ke rumahMu. Tuhan, aku sangat mencintaiMu. Takkan kutinggalkan walau sedetik saja. Kuingin dalam diriMu aku beristirahat di sana. Amin

Rabu, 24 Maret 2010

UntukMu

Telah jauh jejak kaki ini melangkah. Bertemu dengan peristiwa2 yang kadang membuat suka dan duka, namun kedua kondisi paradoks tersebut memberikan pelangi yang selalu tersungging di balik bukitMu. Ah, Engkau selalu mengumandangkan kidung yang selalu tersirat di balik jubahMu. Menggema akan tasbih yang tergenggam dalam ketidakpastian hidup ini. Di ransel yang selalu temani pengembaraan ini Tuhan, aku membawa oleh2 untukMu. Oleh2 yang lukis semua peristiwa hidupku. Sebuah episode atau elegi pagi dan senja. Sebuah kepingan yang akan kusatukan dalam rencanaMu nantinya. Saat kulihat jejak kaki yang tertinggal di belokan jalan itu, selalu teucap kata," Tuhan, semua yang ada dalam diriku hanyalah titipanMu semata." Amin

Senin, 08 Maret 2010

Suatu Saat

Apakah hujan musim ini sebabkan mendung di hatimu sayang. Tiadakah angin yang lembut nan mesra membawakan suka cita? Ataukah angin membuatmu merasa gigil akan rindu akan cita2 yang kita jelang? Esok pasti datang, dan suara surga akan kita nyanyikan bersama, ya bersama dalam keriangan pagi dan doa di penghujung senja. Kuingin langkahkan kaki ini di setiap jalan yang kita jelang. BErgandengan tangan dalam dekap dan pelukan yang tak terucap. Sebuah keabadian dalam cinta dan rindu yang kekal dalam semua musim. Meraja dalam renungan hati yang terdalam. Ah, kau tersenyum penuh arti. Hanya kanda yang tahu setiap arti senyum, tawa, dan tangismu. Reguk semua hidup ini sayang agar terpuaskan segala isi dunia dan surga. Bejana itu akan kita bawa, di depanNya dan tak terpisahkan.

Minggu, 07 Maret 2010

Apakah Kau Akan MenamparKu?

Saat senja beranjak malam, gerbong kereta Jogja - Jakarta penuh sesak. Berjejalan antara penumpang dan penjual. Akupun dengan tubuh yang basah dengan keringat, mencoba tuk usir panas yang cipta setiap setiap kegelisahan. Saat kulihat kehidupan di balik jendela dekat tempat dudukku, terdengar seseorang Bapak marah dan saat itu juga suara tamparan sangat keras kudengar. Aku tertegun melihat yang terjadi. 'PAk, jangan main tampar gitu dong, kalau Bapak tidak mau asap rokok ya sana ke gerbong kereta eksekutif, dan kalau Bapak main kasar, saya juga bisa, ayo turun di sini kita tuntaskan perkelahian ini' kata seorang anak muda di depan Bapak yang nampar tadi. 'Ayo,'jawab Bapak itu tidak mau kalah. Lalu banyak orang melerai dua orang tadi. Kejadian itu memberi sebuah penggalan cerita saat Anak Manusia ditampar seorang serdadu. Tapi bukan tamparan karena saling mempertahankan ego manusia. Tamparan yang membalikkan keadaan. Keadaan yang benar menjadi salah, keadaan yang salah menjadi benar hanya demi kepentingan sesaat, sesuatu yang tidak langgeng. 'Jika engkau ditampar pipimu, berikanlah pipimu yang lain'. Sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan oleh akal manusia. Karena akal manusia sulit walau bisa menjangkau tetapi tergantung akan kedewasaan spiritualnya. Apakah kita juga ikut menamparNya? Ya kita juga ikut menamparNya saat kita berbuat yang tidak pantas. Jika kita diam saat ada saudara yang membutuhkan pertolongan, kita diam saat ketidakadilan meraja dalam sistem pemerintahan, kita diam di saat nasib rakyat kecil diinjak2 hanya segelintir penguasa. Banyak sekali kejadian yang menyadarkan kita.
Kisah dalam gerbong ini membuatku sadar, bahwa hidup harus berbagi, dan tetap menjadikannya sebuah perjalanan yang mesra dengan sesama. Dalam deru gerbong ini, kulihat Engkau menyembulkan wajahMu yang berewok namun lembut, terlihat dengan jelas bekas tamparan yang terlukis di pipiMu. Namun saat aku akan temui Engkau dengan cepat, Engkau membalikkan tubuhMu dan terdengar sebuah tanyaMu,'Apakah engkau akan ikut menamparKu sahabat?' Aku pun terduduk dengan jawaban yang sulit terucap. 'Ah Tuhan, jika aku ikut menamparMu saat lalu, aku berjanji tak menamparMu bahkan saudaraku'.

Tuhan, Kupersembahkan Hidupku UntukMu

Tuhan, kupersembahkan hidupku untukMu
Semua yang kujalani, kupakai demi kemuliaanMu,
Tuhan, kupersembahkan hari-hariku untukMu,
Kuangkat pujian bagiMu sebagai pengorbanan yang membahagiakan,
Tuhan, kupersembahakan hidupku
Seluruh apa adanya diriku,semua yang kumiliki
kupersembahkan bagiMu Tuhan
Seluruh kebangganku, seluruh kegembiraanku, dan juga
dukaku semua demi namaMu.

( Diambil dari Pukat Kasih - PK3S )