Saat senja beranjak malam, gerbong kereta Jogja - Jakarta penuh sesak. Berjejalan antara penumpang dan penjual. Akupun dengan tubuh yang basah dengan keringat, mencoba tuk usir panas yang cipta setiap setiap kegelisahan. Saat kulihat kehidupan di balik jendela dekat tempat dudukku, terdengar seseorang Bapak marah dan saat itu juga suara tamparan sangat keras kudengar. Aku tertegun melihat yang terjadi. 'PAk, jangan main tampar gitu dong, kalau Bapak tidak mau asap rokok ya sana ke gerbong kereta eksekutif, dan kalau Bapak main kasar, saya juga bisa, ayo turun di sini kita tuntaskan perkelahian ini' kata seorang anak muda di depan Bapak yang nampar tadi. 'Ayo,'jawab Bapak itu tidak mau kalah. Lalu banyak orang melerai dua orang tadi. Kejadian itu memberi sebuah penggalan cerita saat Anak Manusia ditampar seorang serdadu. Tapi bukan tamparan karena saling mempertahankan ego manusia. Tamparan yang membalikkan keadaan. Keadaan yang benar menjadi salah, keadaan yang salah menjadi benar hanya demi kepentingan sesaat, sesuatu yang tidak langgeng. 'Jika engkau ditampar pipimu, berikanlah pipimu yang lain'. Sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan oleh akal manusia. Karena akal manusia sulit walau bisa menjangkau tetapi tergantung akan kedewasaan spiritualnya. Apakah kita juga ikut menamparNya? Ya kita juga ikut menamparNya saat kita berbuat yang tidak pantas. Jika kita diam saat ada saudara yang membutuhkan pertolongan, kita diam saat ketidakadilan meraja dalam sistem pemerintahan, kita diam di saat nasib rakyat kecil diinjak2 hanya segelintir penguasa. Banyak sekali kejadian yang menyadarkan kita.
Kisah dalam gerbong ini membuatku sadar, bahwa hidup harus berbagi, dan tetap menjadikannya sebuah perjalanan yang mesra dengan sesama. Dalam deru gerbong ini, kulihat Engkau menyembulkan wajahMu yang berewok namun lembut, terlihat dengan jelas bekas tamparan yang terlukis di pipiMu. Namun saat aku akan temui Engkau dengan cepat, Engkau membalikkan tubuhMu dan terdengar sebuah tanyaMu,'Apakah engkau akan ikut menamparKu sahabat?' Aku pun terduduk dengan jawaban yang sulit terucap. 'Ah Tuhan, jika aku ikut menamparMu saat lalu, aku berjanji tak menamparMu bahkan saudaraku'.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar