Matahari bertanya pada sang pagi,” Apakah yang akan kau lakukan wahai Pagi?”
Sang pagi menjawab dengan santun diiringi suara kecapi pagi
,”Wahai matahari, akan kusapa daun-daun dan tetesan embun mahkotanya. Akan kuberikan segala waktuku untuk memberi alam ini agar tersenyum dan mengidungkan nyanyian kehidupan.
Kan kuberikan juga cahaya semangat pada kehidupan agar semakin mengartikan begitu indah waktu dan kesempatan tuk hidup ini.”
Matahari tersenyum atas jawaban Sang Pagi.
Dan lihatlah!
Alam kehidupan selalu menyambut pagi dan selalu mengucap syukur pada Sang Khalik bahwa hidup ini tak sia-sia untuk diberi arti dan makna.
Sang Waktupun memanggil matahari yang berubah menjadi Sang Bulan.
Sang Pagipun berubah menjadi Sang Malam.
Lalu kata Bulan pada Sang Malam
,” Wahai sahabatku, apakah yang kaupetik dari semua ini?”
Sang Malampun menjawab dengan santun diiringi suara kecapi malam
,”Wahai Sahabatku Bulan, aku semakin mengerti bahwa hidup adalah pengembaraan yang diiringi karya dan tugas. Jadi tugas dan karya adalah sebuah pengabdian yang mengakar dan menjiwai hidup ini. Bahwa segalanya akan berbuah dan buah itu harus berguna bagi sesama dan kehidupan.”
Sang Bulan yang bijakpun kembali tersenyum sama indah dengan senyum saat menjadi Matahari.
Ternyata bahwa hidup harus diisi dengan karya dan pengabdian yang tulus bagi sesama dan kebesaran Sang Pencipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar