Kupandangi perempuan itu di depanku. Tak henti-hentinya air mata yang tumpah merobek langit kesedihan dan penyesalan. Anak Manusia di dekatnya dengan kasih yang besar menumpangkan tanganNya di atas kepala perempuan itu.
“Dosamu telah diampuni,” kataNya. Udara dengan lembut menyisir dan menyibak rambutnya yang hitam tergerai. Kata-kata Anak Manusia itu meruntuhkan gunung yang terjal di relung hati setiap manusia. Menggemakan kidung agung surgawi yang tertiup sangkakala. Ah perikop di depanku membuatku menangis sedih dan haru akan begitu besar kasihNya. Tenggorokan yang kelu hanya bisa berkata lirih tapi tak terdengar karena udara bagai diam di ujung nafas. Kucoba ikut bersimpuh namun kaki ini bergetar dan berputar dalam pijakan kehadiran.
Lalu saat kulihat di sekeliling, orang Farisi, pemuka agama, dan Saduki semakin memandang sinis perbuatan Anak Manusia. Namun dengan tatapanNya yang teduh, kesinisan yang bagai api itu lama kelamaan hancur dalam es yang beku dan terjelma ketelanjangan dalam diri mereka.
Ya, mereka ternyata juga adalah pelacur. Pelacur yang menistakan tubuh demi kesenangan sesaat, menjual kehormatan demi kekuasaan, dan melacurkan ajaran agama demi kepentingan ego yang selalu warnai kemunafikan.
Magdalena, perempuan itu, menjadikan aku menyadari bahwa keberanian pertobatan akan mentahirkan hidup yang makin lama kehilangan makna dan harapan. Terima kasih Santa Maria Magdalena.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar