Minggu, 04 Oktober 2009

Gerbong Barang Kereta Progo

Di mulai dari antrinya tiket di loket yang tak bersahabat, aku mencoba beringsut dalam antrinya calon penumpang. Tak ada tawa, tak ada senyuman, yang ada wajah tegang nan lesu. "Tak ada tempat duduk, siapa yang cepat dapat pasti dapat tempat duduk!" teriak seorang petugas berseragam biru di belakang kaca ( seakan sekat yang memisahkan pemilik dan pengguna atau barangkali lambang pembuat kebijakan dengan rakyat kebanyakan? Aku tak tahu ). Pas giliran saya sampai di depan loket ada seorang laki2 entah siapa menyerobot antrianku. Dia sangat pongah dan "kemanthil", dengan sabar aku berkata,"antri mas, biasakan tuk antri". Dia tak jawab hanya pandangi dengan tatapan seperti serigala yang lapar. Yah, sebenarnya aku ingin pukul dia atau barangkali aku ingin berkelahi tapi kuurungkan dengan sesak dada yang ingin membuncah. Demi istri dan anak aku pendam emosi ini. Untung dia tidak rasakan pukulan atau tendangan yang kulatih bertahun-tahun, yang jelas saat kurasakan energinya yah paling cuma sepertiga energi totalku ( agak sombong dikit lah ). Ah, lupakan aja orang itu, mungkin ada sanak saudaranya yang meninggal, atau mungkin dia kebelet pipis, atau barangkali dah karakternya, atau barangkali wakil karakter rakyat yang sudah jenuh terhadap antrian ini? kalau sudah sampai rakyat yang bicara, aku hanya ingin wakil rakyat yang habiskan APBN itu juga rasakan antrian panjang. Tapi jelaslah, itu tidak mungkin karena seperti ada tembok di negeri ini antara pemimpin dan rakyat, atau (katanya) wakil rakyat dengan rakyat yang diwakilinya. Sudahlah, sungguh capek mikir negara ini. Lebih baik mikir cari uang tuk istri dan anak yang selalu setia menunggu di rumah. "Sabar sayang, doa kami tukmu," terngiang nasehat istri. "Pa, Pi dan mama sayang Papa," terngiang juga suara anakku mbarep. Demi mereka lagu hidup ini akan kunyanyikan dengan hymne yang suci dan arrensemen yang merdu.
Sampai di gerbong, sudah penuh, tersembul wajah seorang nenek dengan gigi ompong di depan berkata," Sudah pefnuh Mafs." Akupun hampir tertawa, tapi gak enak karena dari adat leluhur tidak boleh tertawakan orang tua, aku sih bayangkan gimana ya wajahku kalau sudah tua, masih cakep dan ganteng seperti saat ini atau dah keriput? Gak tahulah, yang jalas, waktu dan Tuhan yang akan tentukan formula yang pas dengan karakter yang kumiliki terhadap wajah ini. Akupun mencoba mencari di gerbong yang paling belakang,"Sip akhirnya aku dapat masuk walau di bordes". Saat kupalingkan, ternyata di Toilet sudah penuh dengan satu keluarga. Ada bapak, ada istrinya, juga ada empat anaknya yang masih kecil, dan ... satu nenek yang duduk di toilet duduk. Ah, andai Bapak2 dan Ibu2 di Senayan sana melihat pasti mereka menangis (kalau masih punya hati) atau barangkali tertawa atau sebagai bahan tuk membuat dagelan karena wakil rakyat negara ini banyak komedian sehingga bisa juga menjadi bahan lawakan. Atau barangkali mereka dengan gaya khasnya di depan kamera TV sok sedih, sok menangis, sok jumawa sebagai pemimpin ( kan banyak juga yang artist? ) Tapi jujur saja, doa rakyat di sini ( di gerbong Progo ini ) pasti sangat baik dan benar di hadapan Tuhan agar pemimpin dan wakil rakyat ini semakin peduli dengan mereka, semoga. Lagi enak2nya melamun, ada segerombolan orang berlari2 menuju gerbong yang sepertri gerbong barang. Karena tertarik, akupun mencoba keluar dari gerbong ini dan ikut lari. Benar saja, gerbong ini peruntukkannya tuk barang bisa motor, atau mungkin kiriman seperti TIKI atau sejenisnya. Aku pun dengan sekuat tenaga loncat ( tapi bukan seperti bajing loncat ) dan temukan ruangan yang lebih lega tuk duduk. "Trima kasih Tuhan," teriak hatiku. Walau mendapat hanya tempat duduk tuk "lesehan" aku pun sudah senang seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Ternyata tidak hanya aku, ada secerah senyum dari teman2 seperjuangan di sini. Hai, wakil rakyat! Yang kami butuhkan bukan uang hasil korupsi kalian, yang kami butuhkan adalah kenyamanan yang menjadi hak milik kami, sekali lagi, jangan kau rampas hanya demi perut buncitmu! ( kok malah kampanye? tapi kampanye tuk siapa? tuk apa? )
Detik pun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 17:00, harusnya dari tiket berangkat pukul 16:45, kok belum berangkat? Yah, makhlum lah, memaang negara dan birokrasi semua sendi harus belajar menghormati waktu, karena waktu tak dapat diputar mundur, waktu adalah abadi dan tetap menjadi wakil setiap peristiwa entah jaya atau bubrahnya negara ini ( kok aku jadi malah senewen dengan negara ini?) Tapi yang jelas, aku masih bangga kok menjadi bagian dari rakyat kebanyakan ( miskin ) dan warga negara ini karena negara ini diperjuangkan kemerdekaannya lewat tetesan keringat dan air mata dari pendiri, pejuang, dan kaum cerdik pandai ( termasuk kakekku yang berani angkat senjata di Palagan Ambarawa). "Kek, semoga Kakek tidak kecewa terhadap penerus pendiri ini, Doakan ya Kek, kalau bisa cucumu ini menjadi bagian rakyat yang masih mencintai NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara ini. Hidup Pancasila! - lhah aku kok malah histeris gini sih ..?)
"Bung, rakyat akan selalu berjuang, Bung negara ini kutitipkan kepadamu, Rombak segala penyimpangan2 tuk kepentingan pribadi, Bung, doa kami selalu tukmu."
Tapi aku takut jadi wakil rakyat, atau pemimpin negeri ini setelah aku baca pikiran Sokrates tentang kekuasaan adalah uang, dan uanmg adalah kekuasaan. Eit tunggu dulu, sergah hati nuraniku. Yang dikatakan Sokrates memang benar, tapi itu adalah kekuasaan, bukan pemimpin sejati. Pemimpin sejati adalah melampui keinginan tuk tiran, tapi demi keberlangsungan kehidupan rakyat yang lebih baik. Yah, jika ada wahyu dari Tuhan, aku ingin merombak negara ini terhadap KKN dan tidak akan kugadaikan republik ini terhadap inteferensi asing, akan kubuat menjadi Indonesia baru yang lebih adil, beradab, dan berbudaya.
"Teman2 tinggal diberi adonan tepung beras, dan diberi bumbu, kita di sini bisa dibuat rempeyek." kata seoarang Bapak di dekatku dengan gaya banyolan khas Jogja. Kontan saja seluruh penumpang tertawa lepas. Yah memang benar, andai kau di sini, kami ini mirip sekumpulan teri yang diasinkan, jadi tinggal digoreng dan dimakan tuk penggelembungan pundi2 kekayaan salah satu BUMN di negeri ini, atau secara makro ya tadi... buat pemimpin dan wakil rakyat yang tidak merakyat. Belum sampai aku membatin kata2 tersebut, ada seorang Bapak dengan pakaian PKD dengan kumis yang tebal dan tatapan yang sok kejam, berkata, masuk semuanya jangan di luar, dan tentu saja rakyat yang saat ini "didaphuk" sebagai rakyat miskin beringsek ke dalam, makin lama gerbong ini penuh sesak dan membuat aneka parfum dari minyak telon, minyak kayu putih, sampai parfum murahan bertebarab di sekelilingku. Akupun batuk2 kecil tuk usir kesumpekan ini. Aku bayangkan andai Bapak tadi galak sama pemimpin yang korupsi, terhadap wakil rakyat yang mencekik leher rakyat, mungkin negara ini akan aman sentosa. Andai ABRI benar2 tuk rakyat, mungkin tidak ada rakyat yang takut tapi malah merasa aman lha wong mereka adalah pengayom rakyat kok. Pernah aku ke kantor Polisi bersama istri dan anakku. Istriku bilang,"Papa gak takut banyak polisi?" Kaupun menjawab dengan tertawa,"Ma, Ma, Polisi itu tugasnya melindungi dan mengayomi kita kok malah takut sih? Kita takut kalau kita memang nyuri kambing atau nyopet nenek2 peyot." Istriku yang kulihat wajahmu ada ketakutan menjawab," Itu karena Bapakmu Polisi." Pi kecilku pun tak kalah bilang," Iya Eyang Kakung kan Polisi Pa, jadi Pa gak takut ." Akupun senyum kecut. Wahai Polisi Indonesia, kami sekeluarga ( ada keluarga yang lain tidak ya?) ikut mendukungmu, berantas koruptor penjarah uang rakyat, rombak segala birokrasi yang sarat KKN, dan semoga Anda juga bersih dari uang siluman ( semoga para ABRI dapat membersihkan benalu2 yang menempeli seragam mereka agar dalam bertugas dapat murni tuk rakyat).
Tak terasa, lelah juga pikiran ini berandai2 dan akupun jatuh tertidur, bangun2 sudah tiba di Jatinegara. Dengan radsa kantuk yang masih menyergap dan badan yang pegel2 semua, aku pun mempersiapkan diri tuk turun dui stasiun Senen. Jakarta, aku kembali dengan doa seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Jakarta, kadang aku takut tuk kembali, karena banyak serigala yang siap menerkamku. Jakarta, aku kembali dengan sisa tenaga tadi malam. Jakarta, aku kembali tuk mengais rejeki di meja2 makanmu tuk istri dan anak yang setia di Jogja. Jakarta, semoga engkau tidak segarang penampilanmu, semoga masih kutemukan sobekan hati yang murni dan suci.Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar