Kalau boleh aku bertanya padamu sobat. Apakah selamanya tong yang kosong berbunyi nyaring? perdengarkan musik yang saling menggema dan tak beraturan, adalah orkestra yang selalu benar? Ah, aku tak tahu, sudah tujuh tahun di belantara Jakarta ini, banyak kujumpai dan kutemukan sebuah musik yang kadang timbul dan lenyap, dan kebanyakan adalah suara tong tadi. Tong yang berbentuk silinder adalah lambang fleksibilitas dari jiwa manusia. manusia yang mencoba bertahan dengan arus informasi yang tak jelas, kemudian dibuat seakan-akan jelas dan transparan. Ah, sebenarnya aku sudah muak dan ingin muntah. Kejujuran dan kebenaran seakan diinjak2 dan diludahi dengan perampasan keadilan. Merobek dan menonjok perut kesadaran. Tapi aku tetap bertahan dari hujan kemunafikan dan kesombongan ini. Walau kadang langkah terseok dan coba berdiri lantang dengan panji leluhur yang kupegang, kupercaya, pada akhirnya nanti panjiku akan berkibar di tempat yang suci dan murni.
Yah, langkah ini terus berpijak di tempat yang sama, berulang dan berputar pada jarak rotasi yang nol. Coba tuk petik setiap daun dan suara yang berwujud pada waktu kekinian. Dan coba perdengarkan irama tong yang kuberi air dari setiap mata air di planet ini. Yang terjadi adalah irama musik dengan oktaf yang teratur, sesuai gubahan jiwa nuraniku. Cobalah sobat, tongmu yang nyaring dan seakan memekakkan telinga seluruh penjuru ruangan ini ( mungkin ) akan terdengar merdu saat air kesadaran dan keheningan tertuang dalam jiwamu. Semoga hari yang akan kulalui lagi kan terpetik bunga yang benar-benar murni dan suci, bukan bau comberan di bawah sinar bulan atau suara tong yang nyaring dan pekakkan telinga TuhanKu .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar