Saat itu kebetulan, penulis duduk dekat seorang Bapak yang berumur 72 th. Bapak itu berasal dari suatu desa yang sangat jauh tertinggal. Tetapi dari pembicaraan, penulis tahu sebenarnya Bapak ini mempunyai ingatan yang kuat dan juga cerdas walau setamat kelas 2 SR waktu itu.
Dari perbincangan itu, sangat banyak yang penulis petik tentang hidup ini dari pengalaman Bapak Tua tadi. Penulis ingin mencoba merangkum dari serakan2 ingatan waktu itu, yaitu :
1. Tentang Politik Bangsa Indonesia
Saat ini, kita akan memasuki jaman edan ( Ronngowarsito) di mana moralitas dipertanyakan karena manusia hanya lebih mementingkan kepentingan sesaat . Pejabat2 pemeintah saat ini hanya seragam saja, tetapi jauh dari lubuk hatinya tidak ada nurani / rasa, apalagi untuk berpihak kepada rakyat. Lalu saat penulis bertanya, kira2 kapan kita akan terlepas dari kondisi ini Pak ? Lalu Bapak itu mengatakan," Lihat sejarah Nak, Berapa tahun kita dijajah ? Saya jawab," 350 tahun". "Ya... begitulah nasib bangsa kita, jika kita hitung 350 th lagi dari th 1945 jadi sekitar th 2295', jawabnya mantap. Penulis jadi termenung, mmungkin sudah menghadap Tuhan dan Firdaus He he ... Semoga deh ".
2. Tentang Pekerjaan.
Lakukan pekerjaan apapun yang telah dibebankan padamu dengan segala keikhlasan dan tanggung jawab dan pada akhirnya kamu akan menuai manfaatnya. Kalau diberi pacul ya macul, kalau diberi pensil ya menulis, kalau diberi jabatan ya menjabat dengan penuh kebaikan , dstnya ... monggo diteruskan sendiri.
3. Tentang Mencari Ilmu Pengetahuan
Bapak ini bercerita, sampai saat inipun beliau masih suka baca, dia berprinsip bahwa sebelum masuk ke liang lahat, apapun harus kita pelajari untuk 'sangu' dalam hidup ini. Penulis jadi malu, kadang2 mau baca agak males ... tapi penulis akan janji dalam hatio kalau bisa akan baca semua pengetahuan mungkin juga dari buku, atau mungkin fenomena alam ... semoga
4. Tentang Hidup
Jika manusia selalu mengedepankan kebeningan hati dan jernihnya pikiran, semua kesulitan hidupo ini akan mudah dijalani, Selalu rendah hati dan selalu belajar pada orang yang bijaksana. "Bapak hanyalah seoarang petani biasa, ilmu ini seperti padi, semakin tua semakin merunduk, jadi belajarlah selalu rendah hati dan junjunglah kejujuran", kata Bapak itu menambahkan.
Penulis jadi semakin kecil akan kebijaksanaan Bapak itu, semoga pilihan bijak selalu ingin penulis terapkan di dalam mengarungi pengembaraan hidup ini agar lebih bermakna dan berarti Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar