Rabu, 07 Oktober 2009
Maaf
"Engkau salah!" kata seorang anak manusia kepadaku. Kemudian saat aku ke seorang bijak, apa yang telah kulakukan, beliau berkata," Engkau tidak salah, dan juga tidak benar." Dua jawaban tadi telah membuatku berpikir dan merenung. Apakah kesalahan itu? Apakah kebenaran itu? Salah jika segala apa yang terjadi di bawah langit ini tidak sesuai dengan harmoni kehidupan, karena tidak sesuai maka membuat harmoni ini terganggu dan tentu saja akan mengganggu hidup itu sendiri, dan benar adalah sebaliknya. Lalu dari jawaban kedua tadi membuat permenungan lebih dalam lagi. Tidak salah dan Tidak benar adalah cara pandang yang holistik, dan kadang2 memmbuat orang lain menganggap bahwa perkataan ini tidak punya pendirian. Perbuatan itu didasarkan pada apa? Atau apa yang mendasari mengapa,bagaimana perbuatan itu dilakukan? Apakah menuntut hakiki manusia? Ataukah menuntut adanya keegoan manusia? Apakah hanya terdorong oleh rasa dasar manusia? Ekonomi mungkin? Pemenuhan biologis mungkin? Saat mencoba mencari gambaran tentang hal tersebut, Seorang bijak yang merupakan Anak Manusia menandaskan bahwa dosa ( salah yang terakumulasi ) telah ditebus oleh sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Dosa telah kalah dan keselamatan telah datang. Lalu dari jawaban kedua tadi terdapat link yang sangat berhubungan, yaitu bahwa Tidak benar dan tidak salah adalah manifestasi bahwa rela memaafkan akan menebus segala keegoan manusia. Karena maaf, manusia semakin mengerti dan menyadari bahwa hidup lebih berarti. Maaf menjadikan manusia berempati pada manusia lain agar membuat hidupnya dapat lebih berarti karena diberi kesempatan tuk memperbaiki hidup agar kehidupannya lebih membuat harmonisasi kehidupan. Memang sangat berat tuk memberi maaf apalagi orang tersebut sangat bersalah kepada kita. Penulis jadi ingat saat seorang gadis yang sekarang menjadi istri sekaligus ibu anak penulis memberi buku yang berjudul Rela Memaafkan. Semoga pegangan itu menjadikan dasar penulis dan keluarga dalam mengarungi hidup yang tidak pasti ini selkaligus menjadikan obat jiwa tuk menjadi manusia yang seluas samudra.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar