Sebenarnya aku tidak akan menulis posting ini. Tetapi ini sangat mengganggu pikiran warasku,dan gugatan hati yang kadang terbawa mimpi tidurku.
Baiklah, aku akan memulai dengan kata 'terbaik'. Terbaik adalah sesuatu yang memberi manfaat dan terlihat. Si A terbaik karena laporannya dapat memudahkan sang bos untuk laporan ke manajemen yang lebih tinggi. Si B terbaik karena mampu menyelesaikan dan menyelamatkan muka si bos saat pekerjaan tidak bisa ditangani. EEmmmmm.... ternyata setelah kulihat dengan kacamata dan dimensi yang lain, semuanya hanyalah reputasi. Reputasi merupakan penghargaan dari orang lain. Pertanyaanku selanjutnya, apakah semua bersifat subyektif? Subyektifitas kadang menyakitkan,kadang menjengkelkan. Ah, semuanya akan terbuka suatu saat nanti,dan waktu yang akan menjawab semua. Kadang aku selalu bertanya, bagaimana kontribusi teman satu tim-nya? Dimanakah penghargaan untuk mereka? Apakah semua hanya sebagai pecundang dan menyerahkan tetesan keringat hanya untuk satu orang? Sebenarnya aku marah dengan sistem seperti ini,kadang orang bermanis-manis muka di depan si bos hanya untuk mendapat simpati,padahal hasil pekerjaannya merupakan hasil bersama... ya HASIL BERSAMA.
Tidak bermaksud mengunggulkan diri pribadi, aku teringat di saat mendalami akademik di bangku pendidikan,semua fair, nilai terukur dengan obyektif. Saat aku mendapat nilai terbaik,aku berhak maju sebagai pemenang. Tapi saat ini, di dunia kerja, nilaiku terukur tapi sebagai hasil subyektifitas, subyektifitas kerja dan si bos.
Eemmm... saat melamun,istriku menepuk bahuku...
'Pa, kok murung akhir2 ini?' Akupun cerita semua yang ada,semua perasaan dan pikiran yang selalu ganggu tidurku. IStriku dengan senyumnya yang manis berkata," Pa,papa harus bijak,kuat,kaya,dan penuh syukur. Tuhan mempunyai rencana indah untuk kita nantinya." Kutundukkan kepalaku, tak terasa, Stefani dan Benedikta juga istriku memelukku. Mereka berkata," Apapun yang terjadi,papa tetaplah papa yang kami cintai dan sayangi."
Saat ufuk pagi,dimana semua orang masih tidur, kereta api berhenti di stasiun Senen. Kulangkahkan kaki tinggalkan stasiun... dalam hati kuberkata... memang aku bukan karyawan terbaik... tapi aku kan lakukan yang terbaik tanpa meninggalkan loyalitas,kejujuran,kesetiaan,dan syukur. Masih terngiang nasehat istriku," Buat kami, papalah yang terbaik,lakukan saja,karena hidup semua adalah permainan saja".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar