Senin, 14 Desember 2009

Peristiwa Blog KW

Setelah membaca blog tentang seorang ibu yang telah merasa dipupuskan harapannya oleh kenyataan ( atau mungkin ketidakbenaran) hati ini sangat trenyuh, sangat sedih, sangat terpukul. Jika itu sebuah kenyataan, alangkah kejamnya jika manusia itu telah diberi kebebasan dari Tuhan dan memaknainya kebebasang tanpa tanggung jawab. Kebebasan yang disalahartikan, kebebasan yang akan menghanyutkan kehidupan itu sendiri sehingga menjadikan jiwa makin terombang-ambing akan titik pusat kesejatian. Lalu diriku ingin bertanya. Kebebasan apakah yang kau hayati? apakah kebebasan telah meluluhlantakkan nurani? Bukankah nurani yang terampas akan melahirkan kehancuran kemurnian?
Bicara kemurnian adalah titik refrensi yang akan penulis singkap. Kemurnian bak emas yang telah dibakar dalam panasnya api. Api yang akan memurnikan emas dari rekatnya unsur logam tertentu bagai jiwa manusia yang lepas dari seluruh godaan di dunia ini. Godaan yang membuat tidak murni, tidak asli, sudah lupa akan siapa jati dirinya yaitu hanya sebagai kafilah di dunia yang memang penuh warna ini. Ya, buat seorang ibu ( tidak akan penulis sebutkan ), yang telah terluka akan sistem hierarki tertinggi suatu agama, tetaplah terus berjuang demi kebenaran itu sendiri. Tetapi, jika ketidakbenaran yang telah anda nyatakan, penulis percaya, Dia tidak akan pernah tidur sebelum kebenaran ditancapkan di dalam kemurnian anda. Karena kemurnian tetaplah murni dan tidak akan tercampur oleh keegoan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar