Senin, 21 Desember 2009

Renungan Dari Mekah

Suatu pagi dengan gerimis hujan di jakarta, seorang teman datang kepada penulis dengan sapa dan senyumnya yang khas. Ada aura dan energi yang sangat positif menyebar di penjuru ruangan ini. Ya, saya baru ingat ternyata teman tadi barusan pulang dari ibadah haji di Mekah. Saya pun mengucapkan selamat dan terucap kata " Tuhan memberkatimu sobat". Kalimat itu selalu keluar dari hatiku tak memandang dari mana etnis, agama, golongan, atau institusi apapun. Karena menurut penulis, manusia adalah berasal dari Tuhan dan diberi kebebasan dalam meniti jalan hidupnya.
"Maaf teman, saya tidak membawa oleh-oleh," kata teman penulis. " Sobat, hanya doa yang kupinta semoga aku dalam mengembara di hidup ini dapat menemukan kebaikan-kebaikan dariNya,"jawab saya. "Amin, doa selalu kuhaturkan untukmu dan teman2 ku, juga musuhku,"jawab sobat saya. Aku pun terharu, dia mengatakan musuhku ... aku jadi ingat akan doa 'My Father' ... ternyata doa yang baik adalah universal dan selalu memaafkan. Oke sobat, ceritakanlah padaku bagaimana kondisi tempat suci itu? Lalu temanku mengambil kursi dan berada tepat di mejaku. " Baiklah, saya akan menceritakan pengalaman baik dan buruk bagiku, mau yang mana dulu sobat?" kata temanku. "Bagaimana kalau yang buruk dulu? aku lebih menyukai belajar dari keburukan agar menjadi lebih baik dan benar,"jawabku. " Baiklah, pengalaman pertama pada saat aku bertemu dengan orang Zimbabwe, badannya hitam dan aroma tubuhnya begitu menyengat, aku pun membatin, wah dia tidak mandi, dan apa yang terjadi sobat? selama dua hari, bau tadi selalu menusuk hidungku, aku pun menangis, setiap malam aku berdoa pada Allah untuk meminta maaf karena membatin yang tidak seharusnya aku batinkan. Dan ternyata doaku dijawabNya, aroma tidak sedap itu hilang dengan sendirinya. Terus pengalaman kedua, aku membatin seorang Turki, bajunya sangat lusuh dan dekil, dan di belakang tubuhnya ada darah, aku pun membatin, harusnya kalau ibadah ya harus bersih baik bajunya dan hatinya, aku ternyata buta, dan aku masih menjadi seorang manusia yang hanya memandang secara lahiriah. Tahu gak sobat? aku memang sakit ambien, dan ternyata ambienku kambuh, sampai keluar darah dan bajuku yang tadinya bersih menjadi kotor, aku pun sedih sekali, dan dengan rasa penyesalan aku berdoa minta ampun kepada Allah, dan akhirnya doaku dikabulkannya. Sobat, pengalaman tadi membuatku sadar, apa yang kubatin pasti akan kembali ke dalam hidup kita. Maka sobat, jadilah suci di dalam lahir dan batin," kata teman saya menyimpulkan sekilas pengalaman buruknya. Aku pun mengiyakan dan jadi ingat akan Alkitab bahwa pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Puji Tuhan ternyata Engkau mengetahui semua perbendaharaan hati masing-masing ciptaanNya. "Terus bagaimana untuk pengalaman yang baik sobat?" tanyaku selanjutnya. " Sebenarnya masih banyak pengalaman buruknya sobat, dan aku juga ingin sepenggal saja pengalaman baikku. Begini, aku selalu memberi tempat dan care sama orang lain, di Mekah pun aku juga melakukan hal yang serupa. Buah dari apa yang kulakukan itu, aku dan istriku selalu diberi tempat baik untuk solat, atau pun di tempat manapun, sehingga menjadikanku lebih khusyuk dalam beribadah. Terus untuk berdana, aku menyiapkan 1 real untuk dibagi-bagikan ke orang yang tak punya. Dan itu juga kulakukan di Mekah. Syukur pada Tuhan, sampai detik ini, rejeki dariNya selalu mengalir dalam hidupku." Akupun sangat terharu dan senang mendengarkan kisah temanku, bahwa hidup adalah untuk berbagi cinta dan pelayanan. Kulihat mata berbinar temanku dan ada secerah harapan untuk melanjutkan perjalanan hidupnya. Lalu kataku, "Sobat selamat menjadi Haji yang mabrur, dan semoga berkah yang kau terima dariNya dapat kau bagikan dengan percuma, doa ku juga untukmu." Akupun menyalami dia yang kedua kalinya, ada air mata di sudut matanya, mungkin ada rasa haru dan bahagia. " Terima kasih sobat, mari kita tuntaskan pengembaraan dan perjalanan hidup ini walau jalan kita beda, tapi aku percaya kita akan bertemu suatu saat nanti di taman surgaNya. Amin," kata temanku. Lalu dia pamit karena banyak tugas di depan matanya baik kantor, keluarga, dan lingkungan sekitarnya. Ku lihat dia meninggalkan ruangan ini, dari jalannya ada rasa optimis, hidup adalah berbagi, hidup adalah demi kebesaran dan kemulianNya. Semoga Tuhan memberkatimu sobat...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar